Menjadi Saudara yang Mendengarkan, Bukan Menyalahkan

Rabu, 12 Agustus 2026 – Hari Biasa Pekan XIX

5

Matius 18:15-20

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang darimu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

***

Menyalahkan dan mencari kambing hitam adalah hal yang mudah dilakukan. Ketika terjadi masalah dalam hidup bersama, komunitas, keluarga, ataupun tempat kerja, naluri pertama kita sering kali mencari siapa yang salah dan melempar tuduhan. Kita sering kali mudah menyalahkan karakter tertentu, bahkan langsung menghakiminya tanpa tahu cerita sebenarnya. Menyalahkan itu cepat, tetapi memulihkan itu butuh waktu alias lambat. Menyalahkan itu mampu memuaskan ego pribadi, tetapi mendengarkan membutuhkan kerendahan hati.

Hari ini, Yesus mengajak kita untuk keluar dari budaya menyalahkan. Yesus menawarkan sebuah jalan yang radikal, yaitu menjadi saudara yang mau mendengarkan, bukan hakim yang mudah untuk menyalahkan. Mendengarkan mulai dari “empat mata”. Yesus berkata, “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata.” Mengapa Yesus menekankan pembicaraan empat mata?

Ketika kita mendatangi seseorang secara pribadi, kita sedang membuka ruang yang aman untuk dialog, bukan ruang sidang penuntutan. Menyalahkan biasanya dilakukan di depan publik melalui sindiran atau ujaran kebencian di media sosial, pembicaraan di belakang punggung, gosip, atau bentakan di depan orang banyak. Berbeda dengan itu, mendengarkan membutuhkan privasi. Saat kita duduk empat mata, tujuan kita bukan untuk memenangkan argumen atau memojokkan, melainkan untuk memahami.

Sebelum kita menegur, sudahkah kita mendengarkan latar belakangnya? Apa yang menjadi pertimbangannya? Apa yang sedang ia alami? Mengapa ia melakukan kesalahan itu? Menegur tanpa mau mendengarkan hanya akan melahirkan luka baru. Namun, menegur dengan telinga yang siap mendengarkan akan melahirkan pemulihan.

Iman kristiani mengajarkan kepada kita bahwa fokus iman adalah orangnya, bukan kesalahannya. Seorang hakim berfokus pada pasal dan hukuman, tetapi seorang saudara berfokus pada jiwa dan pemulihan. Ketika kita datang dengan semangat menyalahkan, orang lain otomatis akan membangun benteng pertahanan. Namun, ketika kita datang sebagai saudara yang peduli dan mau mendengarkan, benteng itu akan runtuh dengan sendirinya. Bahkan ketika prosedur berlanjut sampai membawa saksi, semangatnya tetap sama: Bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk melipatgandakan kasih dan perhatian, agar ia merasa didengarkan dan dirangkul kembali.

Hari ini, Yesus mengundang kita untuk merefleksikan kembali relasi kita: Apakah ada saudara, pasangan, anak, atau rekan kerja yang selama ini lebih sering kita salahkan daripada kita dengarkan? Beranikah kita melangkah hari ini untuk menyapa mereka, duduk bersama, dan berkata, “Aku di sini bukan untuk menghakimimu. Aku di sini untuk mendengarkanmu”? Mari kita memohon rahmat kerendahan hati kepada Tuhan. Semoga kita tidak menjadi orang yang cepat menunjuk jari untuk menyalahkan, tetapi menjadi saudara yang membuka telinga dan tangan untuk mendengarkan dan merangkul dalam kasih persaudaraan.