Mencintai Allah dengan Segenap Hati, Jiwa, dan Akal Budi

Jumat, 21 Agustus 2026 – Peringatan Wajib Santo Pius

7

Matius 22:34-40

Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

***

Yesus didekati oleh seorang ahli Taurat yang berarti seorang ahli hukum agama. Ia menguji Yesus dengan mengajukan pertanyaan sederhana yang sering diperdebatkan di antara para pemimpin agama: Perintah manakah yang terbesar dalam hukum Taurat? Yesus menjawabnya langsung bahwa mengasihi Allah dengan segenap hati adalah perintah yang utama. Yang kedua adalah mengasihi sesama seperti diri sendiri. Segala sesuatu yang kita pikirkan, percayai, atau lakukan berkenaan dengan Allah harus merujuk pada gagasan mendasar ini.

Allah menginginkan umat-Nya, agar pertama-tama dan di atas segalanya, mengasihi Dia dengan setiap bagian dari diri mereka. Hati, jiwa, dan akal budi menggambarkan pusat emosi, tindakan, dan pemikiran. Inti dari perintah ini bukanlah untuk memisahkan ketiganya, melainkan untuk menyatukannya dengan setiap aspek diri seseorang yang sepenuhnya berkomitmen untuk mengasihi Allah. Komitmen yang murni dan tak terputus kepada Allah dan kehendak-Nya adalah dasar dari hubungan yang benar dengan-Nya.

Agustinus Adisutjipto adalah satu dari beberapa pahlawan Indonesia yang beragama Katolik. Pada saat Agresi Militer Belanda I, Adisutjipto diperintahkan untuk terbang ke India menggunakan pesawat Dakota VT-CLA. Ia berhasil menembus blokade udara Belanda dan sampai di India dan Pakistan untuk misi kemanusiaan. Sebelum pulang ke Indonesia, mereka singgah di Singapura untuk mengangkut bantuan obat-obatan Palang Merah Malaya. Pesawat itu pun kembali pada pukul 13.00, ketika hari sudah siang.

Di Lanud Maguwo, kedatangan Adisutjipto sudah ditunggu. Ia diperintahkan agar pesawatnya tidak perlu berputar-putar sebelum mendarat untuk menghindari kemungkinan serangan udara Belanda. Namun, dua pesawat Kittyhawk milik Belanda tiba-tiba langsung menembaki pesawat tersebut. Pesawat yang dikemudikan Adisutjipto jatuh di perbatasan Desa Ngoto dan Wojo, dan langsung terbakar. Adisutjipto gugur pada tanggal 29 Juli 1947.

Adisutjipto gugur ketika menjalankan misi kemanusiaan, membawa obat-obatan. Ada kisah kepahlawanan, namun ada juga kisah iman. Adisutjipto gugur dan membuktikan kecintaannya pada bangsa. Di sinilah Adisujipto membuktikan bahwa dengan segenap hati, jiwa, dan akal budinya, ia mampu maju menerjang bahaya demi bangsa dan negaranya.