Menjadi yang Kecil untuk Sesuatu yang Besar

Sabtu, 22 Agustus 2026 – Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Ratu

9

Matius 23:1-12

Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

***

Yesus mengecam perilaku para ahli Taurat dan orang Farisi karena mereka melakukan segala sesuatu dengan alasan yang salah. Motif mereka bukanlah pelayanan yang tulus dan rendah hati kepada Allah, melainkan untuk dilihat dan mendapat pengakuan dari orang lain. Para pemimpin agama ini hidup untuk diperhatikan, dihormati, dan dipuji. Mereka pamer dengan menjadikan pakaian dan status mereka sebagai simbol posisi mereka dalam institusi agama. Dengan tegas, Yesus mengkritik sikap-sikap tersebut dan meminta para pengikut-Nya untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Sebagai penutup bagian ini, Yesus menyatakan kembali kepada murid-murid-Nya bahwa orang yang terbesar di antara mereka adalah dia yang menjadi pelayan bagi orang lain. Inilah jalan Kerajaan-Nya. Ketika mengikuti jalan Yesus, orang tidak akan menemukan kebesaran dalam gelar manusiawi atau tempat kehormatan atau rasa hormat dari orang lain. Kebesaran dalam Kerajaan-Nya hanya dapat ditemukan dalam pelayanan. Penulis Surat Petrus mengatakan, “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya” (1Ptr. 5:6).

Selama hidupnya, tiga kali Frans Seda menjabat sebagai menteri di pemerintahan Republik Indonesia. Ia menjadi menteri keuangan ketika keadaan ekonomi Indonesia morat-marit. Harga beras, gula, minyak, dan kebutuhan pokok lainnya naik setiap hari. Frans terus menyumbangkan pemikiran untuk lima presiden Indonesia. Akan tetapi, dia dipercaya oleh lima presiden bukan semata-mata karena kepakarannya, melainkan terutama karena kejujurannya. Ia tidak sibuk mencari kedudukan. Ia juga tidak mengejar harta dan takhta. Sebagai seorang Katolik, ia menjadi saksi Kristus melalui kinerjanya.

Seperti pesan Yesus, selama hidupnya, Frans membuktikan bahwa untuk menjadi orang besar, ia harus bersedia menjadi pelayan bagi orang lain. Sebagai lulusan Sekolah Xaverius, kejujuran adalah jiwa dalam hidup Frans. Hidup Frans persis menjadi kebalikan hidup para ahli Taurat dan orang Farisi. Frans mengabdikan dirinya untuk Gereja dan bangsa, pro ecclesia et patria.