Tuhan Bertindak: Makin Mengenal Diri

Jumat, 25 September 2026 – Hari Biasa Pekan XXV

16

Lukas 9:18-22

Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka: “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?” Jawab mereka: “Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.” Yesus bertanya kepada mereka: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus: “Mesias dari Allah.” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun. Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”

***

“Kata orang banyak, siapakah Aku ini?”

Kita punya berbagai macam keahlian. Ada yang ahli dalam bidang keuangan. Ada yang ahli dalam bidang pendidikan. Ada juga yang ahli dalam bidang teknik, musik, psikologi, dan berbagai macam bidang yang lain. Namun, ada satu keahlian yang sangat sulit kita pelajari: Kemampuan untuk kenal dengan diri sendiri.

Kita dengan spontan akan mengatakan bahwa kita kenal dengan diri kita sendiri sambil menunjukkan kartu identitas yang kita punya. Namun, apa yang dikatakan oleh sebuah kartu identitas? Hanya nama, alamat, tempat, dan tanggal lahir. Di sana, kita tidak bisa menemukan identitas kita yang sejati. Di sana, kita tidak bisa menemukan tujuan dan arah hidup kita. Identitas yang sejati, serta arah dan tujuan hidup kita hanya bisa kita temukan ketika kita kenal dengan diri kita sendiri.

Kenal dengan diri sendiri berarti mampu menatap diri. Setiap hari, kita menatap diri kita di depan cermin, memeriksa apakah penampilan kita sudah pas. Yang kita tatap adalah diri kita secara fisik. Ada sesuatu yang lebih dalam yang mengundang kita untuk makin mengenal lagi.

Kita perlu mengenal identitas diri kita yang sejati. Identitas yang sejati itulah yang akan mengarahkan dan menuntun hidup kita. Mungkin dengan segala pengalaman iman, kita akan mengatakan bahwa kita adalah anak-anak Allah, putra-putri Allah. Itu tidak keliru, dan memang demikianlah yang dikatakan oleh Tuhan. Namun, kita masih perlu terus bertanya: Menjadi anak Allah yang seperti apakah kita? Itu adalah jawaban yang harus kita cari terus dalam hidup, sebab kita dipanggil secara unik oleh Allah. Itulah yang akan menggerakkan dinamika hidup kita, membuat kita bersemangat karena kita terlibat dalam gerak keselamatan Allah.

Jadi, bagaimana dengan identitas diri kita? Mari mohon rahmat Allah agar kita tekun bertanya dan berani menatap kesejatian diri kita.