Gembala yang Hadir dan Berkorban

Rabu, 4 November 2026 – Peringatan Wajib Santo Karolus Borromeus

4

Lukas 14:25-33

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”

***

Bagi tarekat atau kongregasi yang menjadikan peringatan St. Karolus Borromeus sebagai hari raya atau pesta, sebagai bacaan Injil hari ini dapat digunakan Yoh. 10:11-16. Dalam perikop ini Yesus berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.”

Di tengah dunia sekarang yang sering menilai kepemimpinan dari jabatan, popularitas, kekuasaan, atau keuntungan, Yesus menawarkan ukuran yang berbeda: Seorang pemimpin sejati bukanlah orang yang ingin dilayani, melainkan orang yang bersedia memberikan diri. Gembala yang baik tidak pergi ketika keadaan menjadi sulit. Ia tetap tinggal ketika ada masalah, ketika orang-orang yang dipercayakan kepadanya sedang lemah, bahkan ketika pelayanan itu menuntut pengorbanan. Karena itu, menjadi gembala bukan sekadar memiliki tanggung jawab atas orang lain, melainkan juga memiliki hati yang sungguh peduli kepada mereka.

Gambaran Yesus tentang orang upahan terasa sangat aktual. Orang upahan bekerja selama semuanya berjalan baik, tetapi ketika serigala datang, ia lari karena domba-domba itu bukan miliknya. Dalam kehidupan kita, “serigala” dapat berupa masalah, konflik, krisis, penderitaan, kesalahpahaman, atau orang-orang yang sulit dihadapi. Di saat seperti itulah terlihat apakah seseorang sungguh memiliki hati seorang gembala atau hanya orang uapahan yang menjalankan tugas. Dalam keluarga, komunitas, Gereja, maupun masyarakat, kita membutuhkan orang yang tidak mudah meninggalkan tanggung jawab ketika keadaan menjadi berat. Kepedulian yang sejati terlihat bukan ketika semuanya mudah, melainkan ketika kita tetap hadir ketika orang lain sedang mengalami kesulitan.

Hari ini kita mengenang St. Karolus Borromeus, seorang gembala Gereja yang memberikan dirinya secara nyata bagi umat. Ia tidak hanya menjalankan tugas, tetapi juga berusaha memperbarui kehidupan Gereja, memperhatikan pendidikan para imam, mendampingi umat, dan hadir di tengah berbagai kesulitan. Ketika wabah penyakit merajalela, ia menunjukkan keberanian untuk tetap dekat dengan umat dan melayani mereka. Dari hidupnya kita belajar bahwa gembala tidak boleh menjaga jarak dari luka dombanya. Ia justru harus berani mendekat. Bagi kita sekarang, teladan itu dapat diterjemahkan secara sederhana: Jangan hanya bertanya, “Apa tugas saya?”, tetapi hendaknya juga bertanya, “Siapa yang membutuhkan saya?” Jangan hanya melihat masalah dari jauh. Beranilah hadir, mendengarkan, menemani, dan mengambil bagian dalam penderitaan orang lain.

Yesus juga berkata, “Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku.” Menjadi gembala berarti mengenal orang yang dilayani, bukan hanya mengenal namanya atau datanya. Mengenal berarti mengetahui kegembiraan, kecemasan, perjuangan, bahkan luka mereka yang mungkin tidak mereka ceritakan. Dalam dunia yang semakin cepat dan penuh komunikasi digital, kita justru dapat menjadi semakin jauh satu sama lain. Banyak orang memiliki ribuan kontak, tetapi sedikit orang yang sungguh mengenal dan memahami mereka. Karena itu, pelayanan Kristen membutuhkan kehadiran yang personal: Mau mendengarkan tanpa tergesa-gesa, hadir tanpa menghakimi, dan membangun relasi yang membuat orang lain merasa bahwa dirinya berharga.

Akhirnya, Yesus mengatakan bahwa Ia mempunyai domba-domba lain yang juga harus dituntun-Nya sampai semuanya menjadi satu kawanan dengan satu gembala. Ini adalah panggilan untuk membangun Gereja yang tidak menutup diri, tetapi keluar dan mencari mereka yang berada di luar, yang terluka, tersisih, kehilangan arah, atau merasa tidak memiliki tempat. Pada zaman yang mudah membangun tembok karena perbedaan, seorang gembala dipanggil membangun jembatan.

Karena itu, mari kita belajar dari Kristus dan dari St. Karolus Borromeus: Hadir ketika orang lain membutuhkan, mendengarkan alih-alih menghakimi, melayani tanpa mencari keuntungan, berani mendekati mereka yang terluka, dan tetap setia ketika pelayanan menjadi berat. Ukuran seorang gembala bukanlah seberapa banyak orang yang mengikutinya, melainkan seberapa banyak orang yang hidupnya menjadi lebih kuat, lebih berpengharapan, dan lebih dekat kepada Kristus karena kehadirannya.