
Matius 5:1-12a
Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga.”
***
Kita hidup pada zaman ketika banyak orang ingin terkenal, sukses, memiliki banyak pengikut, terlihat hebat, dan mendapatkan pengakuan. Media sosial membuat kita terbiasa menunjukkan sisi terbaik dari diri kita. Namun, Hari Raya Semua Orang Kudus mengingatkan kita bahwa yang paling penting bukanlah menjadi terkenal di mata manusia, melainkan dikenal dan dikasihi oleh Allah. Dunia bertanya, “Seberapa hebat kamu?”, sementara Injil bertanya, “Seberapa besar kasihmu?” Karena itulah Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, yang lemah lembut, yang murah hati, yang membawa damai, dan yang lapar akan kebenaran.” Kekudusan bukan pertama-tama tentang menjadi luar biasa, melainkan tentang membiarkan kasih Allah mengubah hati kita.
Sabda-sabda bahagia makin relevan di tengah dunia yang mudah marah, menghakimi, menyebarkan kebencian, dan terpecah karena perbedaan. Di ruang digital, satu komentar dapat melukai, satu berita yang tidak benar dapat menimbulkan kegaduhan, dan satu perkataan dapat merusak nama baik seseorang. Dalam situasi seperti ini, menjadi pembawa damai, orang yang murah hati, dan pribadi yang mampu mengampuni adalah sebuah kesaksian iman. Ketika orang lain memilih membalas, kita memilih mengampuni. Ketika orang lain menyebarkan kebencian, kita memilih berbicara dengan kasih. Ketika orang lain sibuk mencari siapa yang salah, kita belajar bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk menghadirkan kebaikan?” Karena itu, kekudusan bukan sesuatu yang jauh. Kekudusan hadir dalam cara kita berbicara, menggunakan media sosial, memperlakukan keluarga, bekerja, melayani, dan memperlakukan mereka yang berbeda dengan kita.
Orang-orang kudus yang kita rayakan hari ini mengajarkan bahwa kekudusan tidak berarti hidup tanpa masalah. Mereka mengalami juga kegagalan, kehilangan, penderitaan, kesepian, penolakan, bahkan penganiayaan. Namun, mereka tidak membiarkan penderitaan mengubah hati menjadi pahit. Mereka tetap memilih Allah. Karena itu, menjadi kudus dapat dimulai dari hal-hal sederhana, misalnya ayah yang setia kepada keluarganya, ibu yang sabar merawat anaknya, anak yang menghormati orang tuanya, imam yang setia melayani, pekerja yang tetap jujur meskipun tidak diawasi, atau orang yang diam-diam membantu orang miskin tanpa mencari pujian. Kekudusan sering kali tidak terlihat besar, tetapi tumbuh melalui kesetiaan kecil yang dilakukan setiap hari. Yang penting bukan seberapa besar tindakan kita, melainkan seberapa besar kasih yang menyertainya.
Hari ini, para kudus seakan-akan berkata kepada kita, “Kamu juga bisa menjadi kudus.” Jangan menunggu sempurna untuk mulai hidup kudus. Mulailah dengan satu langkah konkret: Mengurangi ego dan lebih banyak mengampuni; mengurangi penghakiman dan lebih banyak memahami; mengurangi kebencian dan lebih banyak mengasihi; mengurangi keinginan untuk dipuji dan lebih banyak melayani. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang hanya terlihat baik. Yang dibutuhkan adalah orang yang sungguh baik karena hatinya telah disentuh oleh Allah. Jangan hanya ingin hidup sukses, tetapi berusahalah hidup kudus. Jangan hanya ingin dikenang manusia, tetapi hiduplah sedemikian rupa sehingga melalui hidup kita, orang lain dapat mengenal kasih Allah. Pada akhirnya, hidup yang paling berhasil bukanlah hidup yang paling banyak memiliki, melainkan hidup yang paling banyak mengasihi.










