Mengungkap Jati Diri Yesus

Senin, 29 Juni 2020 – Hari Raya Santo Petrus dan Paulus

32

Matius 16:13-19

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.”

***

Manusia adalah homo homini socius, yang berarti sahabat bagi manusia yang lain. Kita membutuhkan satu sama lain dalam berbagai aspek. Seorang penjual tidak akan dapat menjual barangnya jika tidak ada pembeli yang membutuhkan barang tersebut. Seorang guru tidak mungkin dapat mengajar jika tidak ada para murid yang haus akan ilmu. Begitulah ikatan manusia satu sama lain. Selain itu, manusia adalah juga homo religiosus, yang berarti makhluk yang hidup dalam alam yang sakral, penuh dengan nilai-nilai keagamaan.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus bertanya kepada para murid mengenai siapakah Anak Manusia itu. Para murid menjawab pertanyaan tersebut dengan mengutip pandangan masyarakat yang menunjuk pada sosok Yohanes Pembaptis, Elia, atau salah satu dari para nabi. Orang banyak tampaknya bingung mengenai siapa Anak Manusia yang sebenarnya. Lalu, bagaimana pendapat para murid sendiri? Mewakili mereka, Simon Petrus memberikan jawaban bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.

Pernyataan Petrus tentu saja berdasarkan pengenalan pribadi dan relasinya dengan Yesus. Jawaban yang dikemukakannya sangat tepat dan bijaksana. Inilah berkat dari Allah Bapa yang berkenan menumbuhkan iman dalam dirinya. Iman dan keyakinan Petrus akan Yesus sebagai sang Mesias membuatnya menjadi “batu karang” tempat Yesus mendirikan jemaat-Nya. Petrus juga dianugerahi kedudukan sebagai pemegang kunci Kerajaan Surga.

Alih-alih seperti Petrus, pada saat ini mungkin kita lebih seperti orang banyak yang kebingungan dalam mengenali Yesus. Karena pandemi Covid-19, kita mungkin juga kebingungan dalam mengenali hidup dan diri kita sendiri. Kesulitan hidup yang sangat berat membuat kita bertanya-tanya siapakah Yesus dalam hidup kita. Pengenalan kita akan Yesus menjadi samar-samar dan tidak jelas.

Namun, sebagai insan religius, saat yang sulit ini semestinya justru menjadi saat yang tepat untuk semakin dekat dan percaya bahwa Yesus adalah Juru Selamat kita. Dia mengajak kita semua untuk semakin bertekun dalam iman, agar dapat kuat dan bertahan dalam situasi apa pun. Mari kita berdoa kepada-Nya agar berkenan melindungi kita dari pandemi yang berbahaya ini. Mari kita berdoa pula memohon kesembuhan bagi orang-orang yang sakit, juga bagi mereka yang bekerja keras mengusahakan kesembuhan para pasien.

Sementara itu, sebagai homo homini socius, kita diajak untuk membantu sesama di lingkungan sekitar kita agar keselamatan dapat dirasakan oleh seluruh umat manusia. Patuhilah protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah; berbagilah dengan sesama yang membutuhkan; jangan hanya mengingat kepentingan pribadi.

Yesus, sang Juru Selamat, kiranya menyertai seluruh umat di dalam perjuangan melawan pandemi ini. Semoga dalam kesulitan apa pun iman kita kepada-Nya tetap teguh. Semoga keadaan ini justru membuat relasi kita dengan-Nya semakin mendalam, sehingga kita sungguh mengalami Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita.