Luar Biasa 4: Berdoa Tulus Tanpa Polesan

Kamis, 21 Juni 2018 – Peringatan Wajib Santo Aloisius Gonzaga

100

Matius 6:7-15

“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]

Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

***

Saudara-saudari yang terkasih, suatu ketika saya bertemu dengan orang-orang muda Katolik. Ketika mau makan bersama, kami semua terdiam sejenak, kemudian terjadi saling tuding satu sama lain mengenai siapa yang harus memimpin doa. Semua orang tidak mau memimpin doa. Katanya, mereka tidak bisa merangkai kata dengan indah dan puitis.

Orang terkadang lupa bahwa esensi doa bukan terletak pada kata-kata, tetapi pada isi dan kesungguhan hati. Tidak sedikit juga yang meyakini bahwa terkabulnya doa tergantung pada rumusan, jumlah, dan sarana yang dipakai.

Sabda Tuhan hari ini mengajarkan kita tentang bagaimana berdoa dan apa yang mestinya kita doakan. Yesus mengingatkan kita, “Dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.” Demikianlah, doa lebih dari sekadar rumusan dan puitisnya kata-kata. Doa adalah ungkapan jujur dan tulus dari seseorang yang meyakini kehadiran dan penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Doa adalah sebuah komunikasi yang lahir dari relasi yang dekat dengan Allah.

Bagaikan napas, doa mestinya menjiwai aktivitas dan perbuatan kita sehari-hari. Apa yang kita hidupi sehari-hari mestinya menjadi bahan untuk doa kita. Hal ini tampak dalam doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Yesus sendiri. Dalam doa ini, orang diajak memuliakan Tuhan atas karya-Nya yang nyata dalam hidup ini; memohon makanan dan rezeki yang cukup untuk hari ini; memohon pengampunan dan kemampuan untuk mengampuni; serta pembebasan dari yang jahat. Dengan itu, doa sungguh-sungguh menjadi napas kehidupan, dan kehidupan sungguh-sungguh dijiwai oleh doa.

Saudara-saudari yang terkasih, sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk merefleksikan kembali kehidupan doa kita. Menyusun kata dalam berdoa adalah biasa. Menjadi luar biasa ketika kita mampu menjiwai setiap kata yang kita ucapkan. Menjadi luar biasa pula ketika doa-doa kita menjiwai setiap langkah hidup kita, dan sebaliknya, kehidupan kita menjadi bahan bagi doa-doa kita. Doa bukanlah penampilan maupun pertunjukan, melainkan ungkapan yang keluar dari hati yang terdalam.