Tidak Ada yang Namanya Kebetulan

Sabtu, 10 Juli 2021 – Hari Biasa Pekan XIV

80

Matius 10:24-33

“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah. Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun darinya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di surga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.”

***

Banyak peristiwa atau kejadian sering dikatakan sebagai “kebetulan”: Kebetulan saya lewat, kebetulan saya tidak ada di tempat, kebetulan baru dapat uang, dan banyak contoh kebetulan-kebetulan lainnya. Namun, sebenarnya tidak ada kebetulan di dunia ini, sebab semuanya telah dirancang oleh Tuhan. Disebut kebetulan, bisa jadi karena tidak kita rencanakan, atau karena kejadian tersebut terjadi begitu tiba-tiba dan tidak bisa dipahami oleh akal budi. Dalam perjalanan rohani, kita mengenal istilah blessing in disguise atau rahmat yang tersembunyi.

Menjelang kematian Yakub (bacaan pertama hari ini, Kej. 49:29-32; 50:15-24), terbongkarlah skenario jahat yang selama ini disusun untuk membunuh Yusuf. Ini bukan kebetulan, tetapi sesuatu yang direncanakan. Bagi Yusuf, peristiwa yang dialaminya juga bukan sebuah kebetulan. Yusuf menangkap hal positif dari peristiwa yang menyakitkan itu. Ia berkata kepada saudara-saudaranya, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”

Tuhan bisa melakukan apa saja dan mengubah rancangan kita yang jahat demi sebuah kebaikan, sebab di mata Tuhan, semua manusia berharga. Hal tersebut ditegaskan Yesus dalam bacaan Injil hari ini, “Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.”

Banyak peristiwa atau kejadian tidak kita rencanakan, atau terjadi begitu saja tanpa kita pahami. Kadang hidup menjadi misteri yang menakutkan karena kita harus berhadapan dengan hal-hal seperti itu. Namun, selalu saja ada rahmat dalam situasi yang demikian. Mari kita yakinkan diri kita sendiri bahwa Tuhan memiliki rencana yang indah bagi kita, sebab kita berharga di mata-Nya.