Berbelas Kasihan

Minggu, 18 Juli 2021 – Hari Minggu Biasa XVI

48

Markus 6:30-34

Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

***

Berbelas kasihan adalah ciri khas gembala yang baik, yang dikisahkan dalam bacaan-bacaan hari ini. Dalam bacaan pertama (Yer. 23:1-6), Nabi Yeremia mengungkapkan bahwa gembala yang baik adalah gembala yang tidak membiarkan kawanan domba gembalaannya hilang dan terserak. Yesus, dalam bacaan Injil, membuktikan dan menghidupkan karakter dari gembala yang baik itu, yakni berbelas kasihan, peduli, melayani, dan memberi hati bagi orang banyak yang sungguh sangat mendambakan kehadiran dan pertolongan-Nya. Begitu cinta-Nya Yesus terhadap orang banyak yang datang menemui-Nya, makan pun Ia tidak sempat. Pelayanan Yesus sebagai gembala kepada kawanan domba digerakkan oleh api energi belas kasihan.

Melulu dan demi kebaikan serta keselamatan orang banyak adalah prioritas misi hidup Yesus. Tidak ada satu persen pun keinginan dalam diri Yesus untuk mendapatkan popularitas, misalnya agar terkenal, dipuji, atau diagung-agungkan oleh para pengikut-Nya. Menarik bahwa, di saat Yesus mulai dikenal dan dicari banyak orang, Ia mengajak para murid-Nya untuk pergi mencari tempat yang sunyi. “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Pergi ke tempat yang sunyi bukan hanya menunjukkan pelayanan Yesus yang lepas bebas dari keinginan untuk mengagung-agungkan diri, melainkan juga merupakan cara dan kesempatan Yesus untuk mengajak para murid mengisi ulang energi kasih dari Allah Bapa sendiri, sang Sumber Kasih.

Saudara-saudari yang terkasih, merenungkan perikop Injil pada hari ini, ada tiga poin yang menarik untuk kita refleksikan di tengah dunia modern yang sedang dilanda pandemi seperti sekarang ini.

Pertama, berhadapan dengan persoalan dan penderitaan orang-orang di sekitar kita, apakah kita yang juga sedang mengalami kesulitan ini mempunyai kepekaan hati, tergerak untuk berbelas kasihan kepada orang lain? Belas kasihan memampukan orang untuk berani “keluar” dari dirinya sendiri, untuk peduli dan memberi perhatian kepada orang-orang di sekitarnya. Kepekaan untuk berbelas kasihan perlu dihidupi, dibiasakan, diteladankan, dan dilatih oleh orang tua kepada anak-anak mereka yang di zaman sekarang ini mungkin lebih disibukkan dengan gadget dan diri mereka sendiri.

Kedua, ketika kita berbelas kasihan, berbuat baik kepada orang lain di sekitar kita, apa motivasi yang menggerakkan kita? Keinginan untuk terkenal, dipandang hebat, dan mempunyai banyak pengikut sering kali justru mewarnai motivasi dalam berbuat baik di zaman ini. Mampukah kita belajar dari ketulusan Yesus dalam berbelas kasihan? Berbelas kasihan berarti memberi kepedulian dan “per-hati-an” karena Allah sudah terlebih dahulu peduli dan mencintai kita. Belas kasihan pertama-tama muncul dari rasa syukur akan cinta dan kepeduliaan Allah kepada kita.

Ketiga, kita diajak agar selalu menimba kekuatan untuk berbelas kasihan dari Allah sendiri. Yesus selalu mengajak para murid-Nya agar meluangkan waktu untuk berdoa, untuk terhubung dengan Allah, sang Sumber Energi. Apakah kita mempunyai me time bersama Tuhan? Apakah kita mempunyai kebiasaan untuk meluangkan waktu mengisi ulang energi kasih dan pelayanan kita dari Tuhan sendiri dalam waktu-waktu doa pribadi kita?

Semoga Tuhan, sang Sumber Kasih, selalu menjadi kekuatan kita dalam berbelas kasihan dengan motivasi yang tulus dan murni. Amin.