Belajar dari Maria dalam Melaksanakan Kehendak Allah

Selasa, 20 Juli 2021 – Hari Biasa Pekan XVI

64

Matius 12:46-50

Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Maka seorang berkata kepada-Nya: “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: “Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

***

Ketika seorang ibu saya mintai pendapatnya tentang bacaan Injil hari ini, spontan ia berkomentar, “Kok jawaban Yesus seperti ini ya, Romo? Masak Yesus tega menanggapi keluarganya yang mencari-cari Dia dengan kata-kata seperti itu?” Kalau kita berhenti membaca pada dua kalimat awal yang dikatakan Yesus, kita pun mungkin akan kecewa, sebab kesannya memang seperti itu. “Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” Yesus seolah-olah tidak mau menerima, bahkan tidak peduli dengan keluarganya sendiri ketika Dia sudah menjadi orang terkenal.

Namun, kesan tersebut akan berubah kalau kita membaca kalimat-kalimat yang diucapkan Yesus dalam perikop ini secara utuh. Sambil menunjuk kepada murid-murid-Nya, Yesus berkata, “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Dengan ini, Yesus mau menyampaikan pesan khusus kepada para murid-Nya tentang arti keluarga dan saudara yang sesungguhnya. Keluarga tidak hanya disatukan atau terbatas pada ikatan darah, tetapi terbentuk pula dari kesamaan dalam melakukan kehendak Bapa. Melakukan kehendak Allah adalah kriteria utama dalam keluarga rohani yang dipesankan oleh Yesus dalam perikop ini.

Karena itu, pribadi pertama yang pantas dan memenuhi syarat menjadi ibu dan keluarga bagi Yesus adalah Maria. Maria sejak semula mengatakan “ya” pada kehendak Tuhan, yang disampaikannya melalui Malaikat Gabriel, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38). Maria tidak hanya mengatakan “ya” saat itu saja, tetapi juga dalam sepanjang sejarah hidup dan panggilannya. Ia menghayati dan memperjuangkan kehendak Tuhan melebihi kehendak dan rencana-rencana pribadinya. Bahkan ketika harus menghadapi peristiwa-peristiwa sedih dan duka sebagai seorang ibu, Maria tetap setia pada kehendak Allah.

Saudara-saudari yang terkasih, undangan untuk menjadi keluarga, saudara, dan saudari Yesus kiranya juga ditujukan kepada kita semua. Dalam ikatan keluarga surgawi bersama Bapa, kita diundang untuk tidak hanya bermeterai sah sebagai anak-anak Allah dalam pembaptisan, tetapi agar hidup kita hendaknya memang sungguh layak dan pantas sebagai saudara dan saudari Yesus, yakni dengan taat dan setia mengikuti kehendak Allah seperti yang dicontohkan oleh Maria. Kehendak Allah terkadang berbeda dan bahkan bertolak belakang dengan kehendak kita. Pikiran dan rancangan-Nya terkadang di luar rencana kita. Namun, bersama Maria, mari kita belajar agar mampu menangkap dan menjalani kehendak Allah dalam peristiwa-peristiwa hidup kita setiap hari. Amin.