Mendengarkan atau Sekadar Mendengar?

Rabu, 21 Juli 2021 – Hari Biasa Pekan XVI

75

Matius 13:1-9

Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: “Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

***

Seorang guru mengajar mata pelajaran yang sama, pada jam yang sama, dan di ruang kelas yang sama untuk murid-muridnya. Menariknya, masing-masing murid ternyata menangkap materi pelajaran secara berbeda-beda. Ada yang mampu menangkap 90%, ada yang hanya 65%, dan parahnya ada yang hanya mampu menangkap kurang dari 25%. Sangat mungkin terjadi bahwa hal yang baik ditangkap secara berbeda-beda oleh setiap orang, sebab kemampuan masing-masing orang juga berbeda-beda. Ada orang yang bisanya mendengar saja, namun ada juga yang mampu untuk mendengarkan dengan saksama.

Perumpamaan tentang benih yang ditabur di empat jenis tempat yang berbeda ini cukup sering kita dengarkan. Persoalannya bukan terletak pada siapa yang menaburkan benih atau pada jenis benihnya (karena semuanya sama), melainkan pada kualitas dari media tempat benih itu tumbuh. Tanah di pinggir jalan membuat benih itu tidak bisa tumbuh karena langsung dimakan burung. Tanah berbatu membuat benih itu tumbuh, tetapi kemudian segera layu karena akarnya tidak bisa menancap kuat di tanah. Tanah dengan semak duri bisa menjadi tempat untuk tumbuh, tetapi benih itu akan segera mati karena terhimpit oleh semak-semak duri. Sementara itu, tanah yang baik akan menjadi tempat yang subur bagi tumbuh dan berkembangnya benih tersebut.

Firman Tuhan dari dulu hingga sekarang tetap sama, hanya interpretasinya saja yang berbeda-beda sesuai dengan konteksnya. Namun, ada beberapa orang yang membiarkan firman itu berlalu begitu saja tanpa makna, apalagi mengubah hidupnya. Ada juga yang sempat mengecapnya, tetapi tidak bertahan lama karena lalu dilupakan. Beberapa orang yang lain lagi mampu menangkapnya dan mencoba untuk melaksanakannya, tetapi kemudian hilang sebelum berbuah menjadi berkah. Meskipun demikian, ada juga orang yang mampu untuk mendengarkannya dengan saksama, menerima, mengecap, dan melaksanakannya dalam keseharian hidup, sehingga berbuah menjadi berkah bagi sesama.

Sekali lagi, kualitas orang untuk membuat benih-benih firman tumbuh dan berbuah itu berbeda-beda. Banyak orang bisa mendengar, tetapi sedikit yang bisa mendengarkan. Mendengarkan lebih dari sekadar mendengar. Mendengar adalah aktivitas sambil lalu, tetapi mendengarkan mengandaikan adanya “per-hati-an”, fokus, kesungguhan, dan keseriusan untuk mengecap, membatinkan, dan kemudian melaksanakan.

Pertanyaan refleksi bagi kita semua: Sejauh mana kita memberi “per-hati-an” pada setiap firman Tuhan yang akan menuntun dan mengubah hidup kita? Menanggapi tawaran dan undangan Tuhan, kita ini termasuk jenis tanah yang mana? Yang hanya mendengar sambil lalu? Yang bisa mendengar, tetapi segera kehilangan perhatian? Yang merespons firman Tuhan secara positif, tetapi lalu kalah oleh impitan persoalan-persoalan pribadi? Semoga kita bisa menjadi tanah yang baik, yang mampu mendengarkan firman Tuhan dengan saksama, merenungkan, dan melaksanakannya, sehingga akhirnya menjadi berkah, bukan hanya untuk diri kita sendiri, melainkan juga untuk banyak orang.