Berserah Diri sebagai Sikap Batin

Senin, 13 September 2021 – Peringatan Wajib Santo Yohanes Krisostomus

48

Lukas 7:1-10

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.

***

Yesus hari ini bersabda, “Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Ia sedang berbicara tentang seorang perwira di Kapernaum. Sikap tubuh, tutur kata, dan gerak batin sang perwira menunjukkan tanda kepercayaannya yang utuh kepada Yesus, sehingga Yesus akhirnya memuji iman perwira tersebut. Apa yang bisa kita petik dari bacaan Injil hari ini? Satu hal yang patut kita renungkan bersama adalah tentang kemantapan hati untuk berserah kepada Yesus. Ada beberapa hal yang membuat kita harus melihat lebih dalam: “Apakah selama ini kita sudah sungguh-sungguh berserah kepada Yesus?”

Iman adalah tanggapan pribadi kita atas wahyu Allah. Iman bisa hidup jika ada rasa percaya. Kepercayaan itu tidak hanya bersumber dari tutur kata yang keluar dari mulut, tetapi juga reaksi manusiawi dan keutuhan diri secara menyeluruh. Artinya, ini tidak hanya sebatas penghayatan, tetapi juga pengungkapan. Tantangan yang sering kita jumpai adalah: Kita terkadang susah untuk menyerahkan diri pada kuasa ilahi jika menjumpai situasi-situasi tertentu.

Dalam situasi pandemi yang tak kunjung henti ini, misalnya. Berapa kali kita berteriak-teriak, “Di manakah Engkau, Tuhan?” Kita cenderung kurang sabar dengan proses pembinaan yang diprogramkan Allah. Demikian pula sebaliknya. Jika situasi nyaman sedang menghampiri, kita pun sering lupa untuk mengungkapkan syukur kepada-Nya. Kita mungkin merasa sudah mampu menyerahkan diri kepada Tuhan dalam rupa ungkapan-ungkapan yang tertuang dalam doa-doa pribadi. Namun, pertanyaannya, apakah dalam kehidupan nyata, kita sungguh mampu menghayati penyerahan diri itu?

Jika mengalami kesulitan, sudahkah kita menyadari peran Tuhan dalam memberi solusi yang mengembangkan hidup? Jika mendapatkan kenyamanan dan kemudahan, sudahkah kita melihat betapa kekuatan Tuhan sangat berperan? Bagaimanapun, kekuatan manusiawi tidak akan pernah bisa diandalkan selamanya karena serba terbatas. Kita butuh kekuatan ilahi yang membuat kekuatan manusiawi kita menjadi sempurna.