
Lukas 2:42-51
Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya. Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.
***
Bacaan Injil hari ini memperlihatkan sisi yang sangat manusiawi dari keluarga kudus Nazaret. Maria dan Yusuf kehilangan Yesus. Selama tiga hari mereka mencari Yesus dengan penuh kecemasan. Bayangkanlah kegelisahan orang tua yang anaknya hilang.
Di balik kisah ini, ada gambaran tentang hati manusia yang sering kehilangan arah, kehilangan damai, bahkan kehilangan Tuhan dalam perjalanan hidupnya. Hidup berjalan begitu cepat. Kesibukan, pekerjaan, dan keluarga dengan segala masalahnya sering membuat manusia berjalan tanpa sadar bahwa hatinya mulai jauh dari Tuhan. Kita tetap berdoa, tetap datang ke gereja, tetapi jiwa kita terasa kosong. Ada rasa lelah yang tidak bisa dijelaskan. Ada kegelisahan yang diam-diam tinggal di hati. Sering kali, yang sebenarnya hilang bukanlah Tuhan dari hidup kita, melainkan hati kita yang tidak lagi sungguh mencari Tuhan.
Maria dan Yusuf kembali ke Yerusalem untuk mencari Yesus. Ini menunjukkan bahwa ketika merasa kehilangan damai dan arah hidup, manusia harus berani kembali kepada Tuhan. Dunia tidak mampu memberi ketenangan sejati. Dunia hanya memberi hiburan sementara, tetapi Tuhan memberi kedamaian yang menyentuh jiwa terdalam manusia.
Ketika menemukan Yesus di Bait Allah, Maria berkata dengan nada seorang ibu yang hatinya terluka, “Nak, mengapa Engkau berbuat demikian terhadap kami?” Ada begitu banyak momen dalam hidup ketika manusia juga bertanya demikian kepada Tuhan: Tuhan, mengapa ini bisa terjadi? Mengapa doaku belum dijawab? Mengapa hidupku begitu berat? Mengapa Engkau sepertinya diam saja?
Jawaban Yesus sangat dalam, “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Jawaban ini mengingatkan kita bahwa kehendak Allah terkadang tidak langsung dimengerti oleh manusia. Ada rencana Allah yang lebih besar daripada yang dapat dipahami oleh pikiran kita. Sering kali penderitaan terbesar manusia adalah karena ingin memahami semuanya, padahal iman bukan tentang mengerti seluruh jalan Tuhan, melainkan percaya bahwa Tuhan tetap bekerja bahkan dalam hal-hal yang tidak kita pahami.
Maria tidak sepenuhnya mengerti maksud perkataan Yesus, tetapi ia menyimpan semuanya itu di dalam hatinya. Inilah kedewasaan iman. Tidak semua pertanyaan mendapat jawaban secara langsung. Tidak semua air mata segera berubah menjadi sukacita. Namun, hati yang percaya tetap memilih berjalan bersama Tuhan meski jalannya gelap. Kehilangan, kekecewaan, dan penantian panjang justru merupakan jalan bagi kita untuk belajar bahwa hanya Tuhanlah tempat kembali yang sejati. Manusia bisa saja mengejar banyak hal dalam hidupnya, seperti keberhasilan, pengakuan, cinta, dan kenyamanan, tetapi tanpa Tuhan, hati tetap akan terasa kosong.
Dan, inilah kiranya yang paling menyentuh dalam bacaan Injil hari ini: Setelah itu semua, Yesus kembali bersama Maria dan Yusuf, dan taat kepada mereka. Yesus yang adalah Putra Allah memilih hidup dalam kesederhanaan keluarga biasa. Ini mengajarkan kita bahwa kekudusan sering kali tumbuh bukan dalam hal-hal besar, melainkan dalam kesetiaan menjalani hidup sehari-hari, antara lain mengasihi keluarga, belajar sabar, memaafkan, bertanggung jawab, dan tetap setia kepada Tuhan di tengah rutinitas hidup. Sebab, pada akhirnya, hati manusia tidak akan pernah benar-benar tenang sampai ia tinggal dalam rumah Bapa, tinggal dalam kasih Tuhan sendiri.










