Dari yang Kecil Menjadi Berbuah

Senin, 27 Juli 2026 – Hari Biasa Pekan XVII

4

Matius 13:31-35

Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”

Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.”

Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: “Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.”

***

Biji sesawi itu menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang di cabang-cabangnya. 

Kita terkadang menyepelekan sesuatu yang kecil, rapuh, dan jelek. Kita lebih mengagungkan hal-hal yang besar, perkasa, dan anggun. Bacaan Injil hari ini mau mengajarkan kita untuk melihat arti sebuah proses.

Tuhan mengajak kita untuk melihat arti proses dalam hidup kita. Biji sesawi awalnya kecil, rapuh, bahkan mungkin tidak enak untuk dipandang. Namun, karena perawatan yang baik, perlahan-lahan biji itu menjadi wujud yang baru, yaitu menjadi pohon yang berbuah dan kuat.

Begitu juga dengan iman yang kita miliki. Iman yang kita miliki saat ini bermula dari hal yang sederhana dan kecil: Mungkin dari tindakan orang tua yang dahulu mulai mengajak kita ke gereja dan berdoa saat hendak makan, mungkin pula dari pengalaman berjumpa secara kebetulan dengan teman yang bersedia menjadi tempat mencurahkan perasaan.

Hari ini, mari kita syukuri rahmat yang sudah ada dalam diri kita. Tidak hanya bersyukur atas tindakan atau hal-hal yang besar, mari kita mensyukuri pula hal-hal kecil yang kita alami. Kita bersyukur atas anugerah kecil yang sudah Tuhan semai di dalam hidup kita.

Pertanyaan untuk direfleksikan: Apa saja anugerah kecil yang bisa kita syukuri, yang saat ini sudah berbuah?