
Lukas 7:31-35
Kata Yesus: “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.”
***
Jika melihat ke sekeliling, kita dapat menemukan perubahan yang terjadi di mana-mana. Sebagian besar manusia berlomba-lomba untuk menjadi yang tercepat dan terdepan. Mereka ingin terlihat lebih hebat, menguasai berbagai keterampilan, berusaha terus-menerus meningkatkan dirinya secara fisik, ilmu pengetahuan, maupun sisi spiritualitasnya. Medis sosial diramaikan dengan obrolan tentang hal-hal baru. Orang berlomba untuk mendapatkan followers dan views tertinggi, entah itu dengan cara memberikan informasi dan saran yang bermanfaat bagi orang lain, atau sebaliknya dengan membeberkan aib orang lain, melontarkan komentar dan hujatan kasar kepada orang yang tidak dikenal namun diklaim bersalah.
Dalam pusaran perubahan dan gerak cepat itu, ada baiknya kita berdiam sejenak dan membaca kembali salah satu pesan Rasul Paulus (bacaan pertama hari ini, 1Kor. 12:31 – 13:13): “Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi. Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.”
Kompetensi, ilmu pengetahuan, bahkan karunia bernubuat tidak ada artinya jika manusia tidak memiliki kasih. Perubahan zaman yang menuntut kecepatan aksi dan reaksi sering membuat manusia lupa akan ajaran Tuhan ini. Dengan menjadikan hidup sebagai panggung untuk mendapatkan tepukan dan pengakuan atau sebagai arena kompetisi untuk menjadi pemenang, manusia kerap menjadi linglung akan jati diri dan tujuan keberadaannya di dunia. Mereka lupa akan asalnya, yakni Tuhan yang adalah Kasih itu sendiri, dan hal-hal yang seharusnya melekat pada dirinya, yakni sifat-sifat kasih.
Paulus berkata, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”
Jangan terlena menikmati kebebasan berekspresi, saling pamer eksistensi diri, berlomba-lomba ingin terlihat paling hebat, dengan memakai topeng kepalsuan atau bahkan menjatuhkan orang lain. Hari ini kita diingatkan untuk kembali pada dasar kehidupan, yakni perilaku kasih dan hikmat agar bisa melepaskan diri dari pengaruh dunia. Jangan mengeraskan hati agar kita tidak menjadi manusia bebal yang merasa sudah mengetahui segalanya. Hikmat hanya datang kepada orang-orang yang percaya dan memiliki kerendahan hati untuk siap dibentuk.
Ingatlah selalu bahwa nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti, pengetahuan akan lenyap, tetapi kasih tidak berkesudahan.










