Ende – Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) yang dilaksanakan setiap bulan September merupakan kesempatan bagi seluruh umat untuk makin mendekatkan diri dengan Kitab Suci. Kegiatan ini umumnya diawali dengan ibadat pembuka dan perarakan Kitab Suci, selanjutnya akan diisi dengan aneka kegiatan pastoral Kitab Suci. Situasi yang amat spesial bagi umat Keuskupan Agung Ende (KAE) pada tahun ini adalah melaksanakan kegiatan BKSN pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 SR yang terjadi pada hari Sabtu, 15 Agustus 2026.
Meskipun wilayah Flores masih berada dalam situasi darurat akibat gempa bumi tersebut, umat beriman melaksanakan kegiatan BKSN dengan penuh semangat. Di tengah keterbatasan tempat, suasana pengungsian, dan proses pemulihan yang belum selesai, sabda Tuhan tetap mendapat tempat penting dalam kehidupan umat, termasuk dalam pendampingan iman anak-anak. Semangat ini tampak dalam pelaksanaan kegiatan pendalaman Kitab Suci bagi kelompok anak-anak di beberapa wilayah paroki dan sekolah-sekolah di KAE. Pelaksanaannya berlangsung dalam suasana darurat bencana, tetapi tidak mengurangi kegembiraan dan keterlibatan anak-anak untuk mendengarkan serta mengalami sabda Tuhan.

Selasa, 1 September 2026
Keluarga besar UPTD SMPN 1 Golewa di Were melaksanakan pembukaan BKSN pada hari Selasa, 1 September 2026. Para guru dan pegawai (27 orang) dan siswa-siswi yang berjumlah 220 orang tidak sekadar berkumpul bersama di halaman tengah sekolah, tetapi melaksanakan ibadat sabda dan melakukan perarakan Kitab Suci. Beberapa siswa dengan balutan busana khas Ngada menjadi perwakilan siswa-siswi dalam prosesi Kitab Suci. Ibadat dipimpin oleh Bpk. Yohanes Bio dan suster, guru, sekaligus fasilitator Kerasulan Kitab Suci Paroki Keluarga Kudus Nazaret Were.

Selasa, 1 September 2026
Sementara itu, di Paroki St. Arnoldus Lindi dilaporkan bahwa pada hari Jumat, 11 September 2026, ibu Asty (guru agama) bersama mahasiswa KKN Stipar Ende memfasilitasi pendalaman Kitab Suci bagi 40-an siswa-siswi SDK Rupingmok dengan metode bibliodrama. Kegiatan ini berkaitan erat dengan gerakan bersama dalam pastoral KAE, khususnya pengembangan Komunitas Umat Basis (KUB) Ramah Anak dan gerakan Orang Tua Peduli Anak Usia Dini setelah Musyawarah Pastoral (Muspas) VIII KAE.
Bibliodrama sebagai cara anak mengalami sabda Tuhan
Untuk mendukung dua gerakan pastoral di atas, Komisi Kerasulan Kitab Suci (KKS) KAE menyiapkan bahan pendalaman Kitab Suci yang secara khusus disesuaikan dengan dunia anak-anak. Salah satu pendekatan yang digunakan ialah bibliodrama, yakni metode pendalaman Kitab Suci yang mengajak peserta tidak hanya mendengarkan cerita, tetapi juga masuk ke dalam alur kisah, mengambil peran, bergerak, merasakan, berdialog, dan menemukan pesan sabda Tuhan melalui pengalaman langsung.
Bahan BKSN tersebut disusun oleh Komisi KKS KAE dengan mengacu pada tema BKSN 2026, yaitu Yesus Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius. Tema ini mengajak umat mengenal Yesus sebagai Guru yang mengajar dengan penuh wibawa dan kuasa, serta menghadirkan sabda yang menerangi, menguatkan harapan, dan memperbarui kehidupan. Dari empat tema pertemuan BKSN, Komisi KKS KAE memilih dua tema untuk dikembangkan dengan metode bibliodrama, yakni pengajaran Yesus tentang tugas perutusan para murid (berdasarkan Mat. 10:1-15) dan pengajaran Yesus tentang persaudaraan dalam iman (berdasarkan Mat. 18:15-20). Pilihan ini dimaksudkan untuk membuka ruang kreativitas bagi para pendamping dan fasilitator Kitab Suci di paroki-paroki agar dapat menghadirkan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak-anak.
Anak-anak belajar menjadi murid yang membawa damai
Pertemuan pertama anak-anak ini mengusung tema: Menjadi Murid yang Siap Membawa Damai, berdasarkan kisah Yesus yang memanggil dan mengutus kedua belas murid dalam Injil Matius 10:1-15. Melalui tema ini, anak-anak diajak untuk memahami bahwa panggilan mengikuti Yesus tidak hanya ditujukan kepada orang-orang hebat atau yang memiliki banyak kemampuan. Yesus memanggil orang-orang biasa, mengenal para murid secara pribadi, dan mengutus mereka untuk membawa kebaikan serta damai.
Dalam bibliodrama tersebut, anak-anak diajak membayangkan diri mereka berada bersama Yesus. Mereka mendengarkan nama para murid dipanggil satu per satu, kemudian membayangkan bahwa nama mereka sendiri juga dipanggil oleh Yesus. Pengalaman ini menegaskan bahwa setiap anak berharga, dikenal, dan memiliki panggilan dalam kehidupan. Pesan utama yang ditekankan ialah bahwa seorang murid tidak harus memiliki banyak uang, barang, atau kemampuan luar biasa untuk melakukan kebaikan. Yang dibutuhkan ialah hati yang mau percaya kepada Tuhan dan kesediaan untuk membawa damai. Selanjutnya, anak-anak diajak melakukan perjalanan simbolis menuju sebuah “rumah” sebagai tempat perutusan. Mereka tidak membawa banyak perlengkapan, tetapi hanya membawa kesediaan untuk berbuat baik, menolong, menyapa, mengampuni, dan menjadi sahabat bagi orang lain.
Bahan pendalaman tersebut secara khusus mengarahkan anak-anak pada tindakan nyata. Mereka diajak menjawab pertanyaan: “Kalau hari ini Yesus mengutus kamu, kepada siapa kamu mau membawa damai?” Selanjutnya, setiap anak diminta menentukan satu tindakan kecil yang akan dilakukan setelah kegiatan, misalnya membantu orang tua, tidak mengejek teman, menolong teman yang kesulitan, atau berdamai dengan saudara.
Sabda Tuhan dalam situasi pascabencana: Dari tenda darurat menuju perutusan

Jumat, 11 September 2026
Pelaksanaan kegiatan BKSN 2026 di kedua paroki ini memperlihatkan bahwa pendalaman Kitab Suci tidak harus menunggu situasi ideal. Kegiatan dapat berlangsung di tengah keterbatasan, termasuk dalam situasi darurat bencana dan penggunaan tenda pengungsian sebagai tempat berkumpul. Justru dalam keadaan seperti ini, pesan Injil tentang panggilan, kepercayaan kepada Tuhan, keberanian, dan membawa damai memperoleh makna yang makin dekat dengan pengalaman anak-anak. Mereka sedang hidup dalam situasi yang tidak mudah. Banyak keluarga masih berhadapan dengan ketidakpastian, rasa takut, perubahan tempat tinggal, serta kebutuhan untuk membangun kembali kehidupan harian.
Dalam konteks tersebut, bibliodrama menjadi lebih dari sekadar metode mengajar Kitab Suci. Kegiatan ini menyediakan ruang bagi anak-anak untuk bergerak, bermain, tertawa, berbicara, berdoa, dan mengungkapkan perasaan dalam suasana yang aman. Anak-anak tidak hanya menerima penjelasan tentang sabda Tuhan, tetapi juga mengalami bahwa Tuhan tetap hadir dan memanggil mereka, bahkan dalam keadaan sulit.
Kegembiraan anak-anak selama mengikuti proses bibliodrama menjadi tanda bahwa kegiatan ini dapat membantu menghadirkan suasana pemulihan psikologis dan spiritual secara sederhana. Dalam situasi pascabencana, kesempatan untuk berkumpul, bermain bersama, mendengarkan kisah Kitab Suci, dan saling memberi semangat dapat menjadi bagian dari proses healing bagi anak-anak. Salah satu kekuatan bibliodrama ialah kemampuannya menghubungkan kisah Kitab Suci dengan kehidupan konkret peserta. Dalam pendalaman Matius 10:1-15, anak-anak tidak berhenti pada pemahaman bahwa Yesus pernah mengutus para murid. Mereka diajak menyadari bahwa mereka juga dapat menjadi pembawa damai dalam lingkungan terdekat.
Pesan tersebut menjadi sangat relevan dalam situasi pascabencana. Membawa damai dapat berarti menenangkan teman yang takut, berbagi makanan, membantu orang tua, tidak mengejek teman yang menangis, menemani saudara, atau memberikan sapaan kepada orang yang sedang mengalami kesulitan.
Dengan demikian, perutusan tidak dipahami sebagai sesuatu yang jauh atau hanya dilakukan oleh orang dewasa. Perutusan dimulai dari tindakan kecil yang dapat dilakukan anak-anak dalam keluarga, sekolah, lingkungan, tempat pengungsian, dan komunitas basis. Puncak bibliodrama bukan terletak pada kemampuan peserta memainkan peran, melainkan pada pengalaman mengalami teks Kitab Suci dan mengambil satu keputusan konkret setelah kegiatan selesai. Anak-anak diharapkan pulang dengan kesadaran bahwa mereka dipanggil oleh Yesus untuk membawa damai melalui tindakan sehari-hari.

Jumat, 11 September 2026
Kolaborasi pastoral yang menghidupkan
Pendalaman Kitab Suci di sekolah sebagaimana dilakukan ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara seksi pastoral paroki dan lembaga pendidikan calon agen pastoral. Seksi KKS paroki bersama mahasiswa KKN Stipar Ende mengambil peran sebagai fasilitator kegiatan, mendampingi anak-anak, menghidupkan suasana, dan membantu peserta masuk ke dalam pengalaman Kitab Suci. Kolaborasi seperti ini amat penting dalam pengembangan pastoral Kitab Suci yang ramah anak. Anak-anak membutuhkan pendamping yang tidak hanya menguasai isi Kitab Suci, tetapi juga mampu menggunakan bahasa sederhana, menciptakan suasana yang menyenangkan, memahami dunia anak, dan menghubungkan sabda Tuhan dengan pengalaman hidup mereka.
Bibliodrama memberikan ruang bagi pendamping untuk menjalankan peran tersebut. Pendamping tidak sekadar menjelaskan teks, tetapi juga membantu anak-anak mengalami panggilan, mendengarkan suara Yesus, menghadapi ketakutan, berjalan dalam perutusan, dan menemukan bentuk konkret untuk membawa damai.
Kegiatan BKSN 2026 di kedua sekolah dan paroki ini juga menjadi kesaksian bahwa bencana tidak memadamkan semangat umat untuk mendengarkan sabda Tuhan. Di tengah tenda darurat, keterbatasan fasilitas, dan proses pemulihan pascagempa, anak-anak tetap diberi ruang untuk bertemu dengan Yesus melalui Kitab Suci. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa pastoral Kitab Suci dapat hadir secara sederhana, dekat, dan tanggap terhadap situasi umat. Sabda Tuhan tidak hanya disampaikan dalam gedung gereja atau ruang pertemuan yang nyaman. Sabda itu juga dapat diwartakan di tenda pengungsian, di halaman terbuka, dan di tengah kehidupan umat yang sedang berjuang memulihkan diri.
Melalui bibliodrama, anak-anak belajar bahwa Yesus mengenal nama mereka, menyertai mereka, dan mengutus mereka untuk membawa damai. Pesan ini menjadi sumber penguatan bagi anak-anak yang sedang menghadapi situasi sulit. BKSN 2026 di KAE akhirnya tidak hanya menjadi kegiatan pendalaman Kitab Suci, tetapi juga menjadi tanda bahwa di tengah situasi darurat, iman tetap dirawat, anak-anak tetap diperhatikan, dan api Injil tetap menyala. Dari tenda-tenda darurat di Flores, sabda Tuhan terus dihidupi melalui langkah-langkah kecil anak-anak yang belajar menjadi murid, pembawa damai, dan sahabat bagi sesama.***(Disarikan dari Laporan Seksi KKS Paroki Were dan Paroki Lindi)










