
Lukas 6:43-49
“Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.”
“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya — Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan –, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.”
***
Yesus biasa mengajar dengan perumpamaan. Inilah cara pengajaran kuno yang mudah dipahami. Perumpamaan mengajarkan kebijaksanaan yang bisa ditafsirkan dalam aneka konteks yang berbeda.
Hari ini, Yesus mengajak kita untuk belajar dari pohon. Pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, demikian pula sebaliknya. Pohon memiliki tiga bagian, yakni akar, batang, dan ranting tempat buah dihasilkan. Agar tumbuh subur dan bisa menghasilkan buah, pohon mesti memiliki akar dan dekat dengan sumber air. Di sinilah kita disadarkan bahwa kronologi tersebut juga perlu kita bangun.
Bulan September menjadi saat yang khusus bagi umat Katolik untuk mencintai Kitab Suci, sumber mata air kebijaksanaan yang tiada pernah habis. Kita disadarkan untuk selalu berakar pada sabda Tuhan. Seperti disampaikan Yesus, barangsiapa mendengarkan Sabda Tuhan dan melakukannya, itu sama dengan orang yang mendirikan rumah di atas tanah dengan dasar yang kokoh.
Paulus dalam bacaan pertama (1Kor. 10:14-22a) juga meminta umat di Korintus untuk mendengarkan pengajarannya. Ia menulis, “Aku berbicara kepadamu sebagai orang-orang yang bijaksana.” Meskipun Paulus berbicara banyak tentang kasih kepada umat di Korintus, itu bukan penegasan bahwa mereka telah melakukannya. Apa yang terjadi di Korintus justru kebalikannya. Umat di Korintus banyak mengalami konflik dan perpecahan karena ketidakdewasaan rohani, sikap sombong karena perbedaan status sosial dan ekonomi, serta pengelompokan jemaat dalam kubu-kubu kepemimpinan. Terjadi juga penggunaan karunia rohani yang tidak tertib.
Oleh sebab itu, sabda Tuhan hari ini menjadi permenungan yang utuh atas hidup kita sebagai pohon-pohon anggur di kebun anggur Tuhan. Apakah hidup kita sudah menghasilkan buah? Seberapa besar hidup kita bersumberkan pada sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci, tempat segala nutrisi bagi pertumbuhan pohon sehingga mampu menghasilkan buah?










