Bahagia Sejahtera

Rabu, 9 September 2026 – Hari Biasa Pekan XXIII

7

Lukas 6:20-26

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di surga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”

***

Ada satu sesi perbincangan dalam persiapan pemberkatan perkawinan, yakni penyelidikan kanonik. Sering kali pembicaraan bersama calon pengantin menjadi sesi yang mengasyikkan karena masing-masing pengantin mencoba menuturkan gambaran ke depan tentang hidup yang akan mereka tempuh bersama untuk membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera lahir dan batin, serta bagaimana semuanya itu hendak diwujudkan. Secara umum, semua ingin membangun hidup berkeluarga yang bahagia dan sejahtera bersama, tidak hanya menyangkut jasmani, tetapi juga psikologis dan spiritual.

Dari banyak pembicaraan dalam sesi tersebut, tidak sedikit saya menemukan pasangan istimewa karena mampu menguraikan gambaran indah tentang hidup yang akan mereka jalani bersama dalam membangun rumah tangga. Saya turut berbahagia menemukan pasangan semacam ini.

Salah satu teks Kitab Suci yang biasanya saya pakai untuk mengecek kedalaman mereka adalah sabda Tuhan tentang sabda-sabda bahagia dalam bacaan Injil hari ini. Yesus bersabda, “Berbahagialah, hai kalian yang miskin.” Kalimat ini memuat paradoks yang menantang kita untuk merenung lebih dalam. Bagaimana mungkin hidup miskin bisa membuat orang merasa bahagia? Sabda yang lain menyatakan, “Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis.” Bagaimana orang yang berdukacita bisa berbahagia? Saya belajar bahwa tidak sedikit calon pengantin yang ternyata mampu menguraikan dengan indah makna sabda Tuhan ini.

Yesus tidak sedang bermain kata-kata, tetapi Dia sedang membuka rahasia apa itu bahagia. Bahagia itu tidak usah menunggu kaya. Bahkan saat orang berada di titik terendah, sedang tidak memiliki apa-apa, hati orang akan bahagia apabila dia pandai bersyukur. Hidup itu sendiri patut kita syukuri dengan sungguh-sungguh. Kita mensyukuri juga kesehatan, dan terlebih kehadiran pasangan dalam hidup perkawinan. Itulah bahagia.

Bahagia akan selalu hadir dalam hidup setiap orang yang pandai bersyukur, apa pun situasinya. Kebahagiaan yang paling besar dalam hidup kita adalah bahwa melalui baptisan, kita menjadi anak-anak kesayangan Bapa dan dianugerahi Roh Allah sendiri dalam kehidupan ini. Paus Fransiskus pernah mengingatkan kita bahwa bahaya yang paling besar zaman ini adalah kalau seseorang kehilangan sukacita dalam seluruh aspek kehidupan, sehingga bahkan bersyukur untuk diri sendiri saja amat sulit. Banyak orang menemukan bahwa diri mereka penuh dengan kekurangan: Rambutnya putih sehingga perlu disemir, terlalu gemuk sehingga perlu diet, gigi tidak rapi sehingga perlu dipasangi behel, dan sebagainya.

Sementara itu, sejahtera adalah sikap batin dalam memandang segala yang ada. Setiap orang memiliki keinginan yang tidak terbatas. Apabila satu keinginan tercapai, orang akan terdorong untuk mendapatkan keinginan yang lain. Karena itu, orang yang sejahtera adalah dia yang mampu mengatakan “cukup” akan semua yang ada. Setiap orang memiliki peta diri menyangkut kemampuannya masing-masing. Orang harus berani mengatakan “cukup” sesuai dengan porsinya masing-masing.

Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing: Sudah bahagiakah aku?