Benih dan Lalang dalam Hidup Kita

Selasa, 28 Juli 2026 – Hari Biasa Pekan XVII

5

Matius 13:36-43

Maka Yesus pun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, kata-Nya: “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

***

Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat.

Manusia pada dasarnya diciptakan dengan amat baik, sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Kejadian, yakni dalam kisah penciptaan. Masing-masing penciptaan diakhiri dengan penilaian bahwa hal itu baik, dan terakhir, setelah penciptaan manusia, dikatakan bahwa segala yang dijadikan Tuhan itu sungguh sangat baik.

Pada mulanya, Tuhan menciptakan manusia baik adanya. Namun, kebaikan asali manusia itu kemudian terkontaminasi oleh pilihan kita yang lebih mendengarkan si jahat. Akhirnya, benih dan lalang menjadi dua hal yang selalu ada dalam hidup kita. Apakah kita sungguh menyadari bahwa kita ini baik adanya? Namun, mengapa kita kerap memilih untuk melakukan hal yang buruk?

Hari ini, Gereja mengajak kita untuk semakin melihat kebaikan yang ada dalam diri kita. Dengan melihat kebaikan yang kita miliki, kita akan makin bisa mensyukuri rahmat Allah dan makin menjadi anak-anak Allah.

Sebagai bahan refleksi kita hari ini: Apa saja kebaikan dalam diri kita yang mau kita kembangkan dan kita syukuri? Hal buruk apa yang mau kita perbaiki agar berubah menjadi benih yang baik?