Tekun Berbuat Kasih

Kamis, 16 September 2021 – Peringatan Wajib Santo Kornelius

63

Lukas 7:36-50

Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.” Lalu Yesus berkata kepadanya: “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon: “Katakanlah, Guru.”

“Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?” Jawab Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya: “Betul pendapatmu itu.” Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: “Dosamu telah diampuni.” Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!”

***

Satu keutamaan iman yang dapat kita petik dari bacaan Injil hari ini adalah tentang kebijaksanaan untuk berbuat kasih. Tindakan kasih seorang perempuan berdosa kepada Yesus dengan cara meminyaki kaki-Nya merupakan bukti bahwa kasih dapat menghadirkan keselamatan kepada mereka yang melakukannya. Walaupun perbuatan kasih tidak selalu mudah diterima oleh masyarakat, tetapi kita tetap harus mewujudkannya. Selalu ada oknum, pihak, atau pribadi tertentu yang tidak mendukung perbuatan kasih, tetapi yang penting perbuatan kasih memberi kepuasan dan kedamaian. Perbuatan kasih yang sempurna tumbuh dari hati, tanpa ada keinginan-keinginan tertentu. Orientasi kasih selalu tertuju kepada orang banyak, tidak hanya kepada diri sendiri atau golongan tertentu saja.

Pada zaman ini, yang cenderung individualis dan egois, kita ditantang untuk tetap membangun kinerja sebagai pelaku kasih. Berbuat sesuatu yang baik adalah sebuah pilihan bijak, sebab artinya mampu mengesampingkan ego dan kepentingan sendiri. Ini sekaligus merupakan tanda bahwa iman kita dihidupi dalam perbuatan untuk sesama. Kebijaksanaan dalam mengasihi akan memberi dampak yang besar bagi kesuburan Kerajaan Allah, yakni damai dan sukacita. Yesus pun pada akhirnya memberikan kasih-Nya kepada perempuan berdosa itu, yakni dengan mengampuninya. Sungguh terasa sangat indah, betapa kasih telah menjelma menjadi roh yang membuat suasana lebih damai dan tenteram.

Kasih yang diwujudkan secara tekun akan mendatangkan keselamatan. Ketekunan merupakan buah roh, sehingga kasih yang terpancar memiliki muatan positif dan menyegarkan. Kita semua sudah diberi karunia untuk mampu berbuat kasih, tetapi perbedaan setiap orang terletak pada kemampuannya untuk peka dan mengembangkan kasih itu secara cuma-cuma. Bagaimana kita harus berbuat kasih? Sebenarnya bisa dimulai dari lingkungan terdekat. Karena itu, kita bisa merefleksikan: Apakah ketika kita mengasihi orang dalam perbuatan-perbuatan kita, seluruh diri kita mendukungnya? Artinya, apakah hati kita juga bergembira, batin kita juga merasa puas, dan seluruh hidup kita menjadi bahagia? Semoga kita sebagai orang beriman dapat merasakan kebahagiaan sempurna ketika mampu berbuat kasih kepada sesama.