Belajar Melayani

Jumat, 17 September 2021 – Hari Biasa Pekan XXIV

72

Lukas 8:1-3

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.

***

Melayani itu sebuah proses belajar. Kita terlahir sebagai manusia yang hidup secara berkomunitas dan berjejaring. Karena itu, kita diutus kepada sesama. Para perempuan yang melayani Yesus dalam bacaan Injil hari ini menjadi gambaran kelompok pelayan. Ketulusan merupakan sistem kerja mereka. Para perempuan itu tidak mencari posisi atau menuntut pengakuan dari Yesus atas kebaikan mereka. Ketulusan yang ada dalam diri mereka jelas bersumber dari hati yang tersentuh oleh Yesus, sehingga dengan penuh syukur mereka bersedia melayani Dia. Mereka mempersembahkan segala yang berharga yang mereka miliki bagi Yesus. Pelayanan yang mereka berikan dipadukan dengan keinginan hati yang murni, sehingga akhirnya menjadi berkat bagi siapa saja. Jika hati kita sudah disentuh oleh Tuhan, kita pasti akan memiliki kesediaan untuk berbagi hidup dengan sesama secara murah hati.

Banyak fenomena pelayanan ditemukan dalam tubuh Gereja. Di paroki-paroki biasanya ada orang yang menguasai bidang tertentu, seperti liturgi, harta benda, atau pastoral kemasyarakatan. Identitas mereka melekat pada bidang pelayanan yang mereka jalankan. Namun, jika tidak hati-hati, Gereja justru dapat menjadi lahan untuk mencari popularitas dan keuntungan pribadi. Hal ini tentu menjadi batu sandungan, sebab umumnya golongan tersebut susah diajak berpikir tentang regenerasi. Di situlah seharusnya kita sadar bahwa Gereja adalah persekutuan. Persekutuan tidak akan terbentuk jika masih ada pribadi-pribadi yang kurang mampu menghayati pelayanan, pengorbanan, ketulusan, dan keutamaan tanpa pamrih. Karena itu, pelayanan adalah belajar, yakni belajar untuk memberi secara murah hati.

Pelayanan bukanlah sebuah sarana pemenuhan individual. Pelayanan itu berbagi berkat. Berkat tersebut tidak tertuju kepada kita saja, tetapi juga bagi banyak orang. Baik jika kita merenungkan ajakan berikut, “Mari kita menghidupi Gereja, tetapi tidak mencari penghidupan dari Gereja.” Gereja adalah simbol pelayanan, maka siapa pun yang mau berkecimpung untuk Gereja haruslah membawa api pelayanan secara sungguh-sungguh. Kita belajar dari para perempuan yang melayani Yesus untuk bisa menjadi pelayan-Nya dengan mempersembahkan apa yang berharga dari kita bagi Tuhan dan Gereja.