Sesama yang Mendukung dan Sesama yang Menghalangi

Senin, 6 Desember 2021 – Hari Biasa Pekan II Adven

75

Lukas 5:17-26

Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit. Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: “Hai saudara, dosamu sudah diampuni.” Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” — berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Dan seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: “Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan.”

***

Orang lumpuh dalam bacaan Injil hari ini tentunya sangat mendambakan kesembuhan. Namun, ia berada dalam kondisi tidak berdaya. Karena memiliki banyak keterbatasan, untuk sampai kepada Yesus, ia sungguh membutuhkan bantuan orang lain yang disebut “sesama”.

Sayangnya, sesama ternyata tidak selalu seindah kedengarannya. Ada sesama yang penuh perhatian, peduli pada orang lain yang membutuhkan, tetapi ada juga sesama yang bersikap masa bodoh terhadap penderitaan yang terjadi di sekitarnya. Si lumpuh di sini mengalami hal yang sama. Di satu sisi, sejumlah orang menolong dia dengan penuh semangat, mengantarnya ke hadapan Yesus dengan segala cara, yang tidak masuk akal sekalipun. Di sisi lain, banyak orang menghalangi perjuangannya untuk memperoleh keselamatan.

Kerumunan orang di sekeliling Yesus adalah penghalangnya yang pertama. Mereka menutup akses baginya untuk sampai ke hadapan Yesus. Apakah mereka tidak melihat orang lumpuh itu? Mungkin saking semangatnya ingin melihat Yesus, orang banyak itu berdesak-desakan, berebut posisi yang paling strategis. Mereka tidak peduli di situ ada orang lumpuh yang membutuhkan kesembuhan.

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi sama saja. Mereka adalah sesama yang menghalangi perjuangan si orang lumpuh. Orang-orang saleh ini bahkan tidak peduli apakah ia sembuh atau tidak. Yang penting bagi mereka, Yesus telah melanggar aturan dan ajaran agama. “Peraturan bagaimanapun harus ditegakkan,” demikian kira-kira yang ada dalam benak orang-orang itu. Bagaimana dengan nasib si lumpuh? Itu sama sekali bukan urusan mereka.

Pesan moral bagi kita yang mendengar kisah ini: Janganlah menjadi sesama yang demikian. Sebaliknya, jadilah sesama seperti orang-orang yang menggotong orang lumpuh itu. Mereka begitu bersemangat membantu dia, pantang menyerah melakukan segala cara agar ia dapat bertemu langsung dengan Yesus. Iman dan perjuangan orang-orang ini turut andil dalam kesembuhan si lumpuh. Iman seseorang ternyata dapat menghadirkan keselamatan bagi orang lain.