Membuka Diri bagi Allah

Rabu, 2 Februari 2022 – Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

181

Lukas 2:22-32

Dan ketika genap waktu penahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan — dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri –, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Lagi pula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.

Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

***

Bacaan pertama hari ini diambil dari nubuat Maleakhi (Mal. 3:1-4), berbicara tentang saat kedatangan Tuhan di tengah umat-Nya. Ketika Tuhan datang dan menampakkan diri-Nya kepada Israel, Ia akan menunjukkan kuasa-Nya dan memurnikan segala sesuatu. Ia pun berharap umat membuka diri mereka untuk menyambut kehadiran-Nya, serta mempersembahkan kurban yang benar kepada-Nya.

Sementara itu, bacaan Injil berbicara tentang penyataan diri Allah secara definitif dan penuh dalam diri Yesus. Dalam hal ini, Simeon dan Hana adalah teladan keterbukaan dari pihak manusia yang bertekun mengharapkan dan menantikan kedatangan Allah. Dengan sepenuh hati, kedua orang ini membaktikan hidup mereka untuk itu. Mereka adalah teladan sikap yang tepat terhadap Allah, yakni membuka diri kepada-Nya.

Kedua bacaan tersebut mengingatkan kita untuk belajar menantikan dan membuka diri bagi Allah. Allah hadir dalam hidup kita karena ingin turut merasakan penderitaan dan keadaan kita sebagaimana adanya. Ia ingin turut merasakan apa yang kita alami; Ia ingin bersolidaritas.

Kita diajak untuk meneladani Simeon dan Hana yang membaktikan sisa hidup mereka untuk menantikan kehadiran Allah. Keduanya memberi teladan bahwa kebahagiaan dan ketenangan hidup yang sejati hanya bisa didapatkan dari Allah. Membuka diri bagi kehadiran Allah dengan tekun dan setia adalah cara hidup yang harus kita usahakan agar mengalami kepenuhan dan kebahagiaan yang sejati.