Senang Diampuni, tetapi Tidak Mau Mengampuni

Kamis, 11 Agustus 2022 – Peringatan Wajib Santa Klara

55

Matius 18:21 – 19:1

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan utangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar utangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala utangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan utangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar utangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, utangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya utangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh utangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh utangnya.

Maka Bapa-Ku yang di surga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan.

***

Kehidupan bersama dalam jemaat melibatkan banyak pribadi. Gesekan atau salah paham antaranggota jemaat dapat menimbulkan pertentangan dan perselisihan. Lebih lagi, tidak semua anggota jemaat memiliki perilaku yang selalu baik. Ada di antara mereka yang melakukan kesalahan atau dosa. Yesus mengingatkan agar tindakan terhadap anggota jemaat yang berdosa tidak didasari oleh kebencian terhadap orang itu atau keinginan untuk membalas. Para murid diingatkan untuk tidak membalas orang yang telah bersalah kepada mereka, tetapi untuk mengampuninya. Tindakan itu didasari oleh pengampunan yang terlebih dahulu telah mereka terima dari Allah.

Berkaitan dengan itu, Petrus mengajukan pertanyaan kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Mengampuni orang yang bersalah sebanyak tujuh kali sudah merupakan tindakan yang sangat berat. Orang harus mengabaikan rasa sakit atau kesedihan atau penderitaan yang diakibatkan oleh tindakan atau perkataan orang yang bersalah itu. Namun, Yesus justru menanggapi pertanyaan Petrus dengan pernyataan bahwa orang harus mengampuni sesamanya sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali. Yesus dengan ini menegaskan bahwa orang tidak perlu berhitung dalam mengampuni. Pengampunan tidak mengenal batas hitungan.

Dengan sebuah cerita, Yesus kemudian memberikan penjelasan mengapa orang harus mengampuni tanpa batas. Raja dalam perumpamaan ini menunjuk pada Tuhan, hamba yang berutang sepuluh ribu talenta menunjuk pada kita, dan hamba yang berutang seratus dinar menunjuk pada sesama kita. Utang dapat dilihat sebagai dosa, sedangkan penghapusan utang adalah pengampunan dosa. Kita sudah berutang begitu banyak kepada Tuhan, tetapi Tuhan menghapus utang kita. Kita sudah berdosa banyak kepada Tuhan, tetapi Ia berkenan mengampuni semua dosa itu. Jika demikian, mengapa kita tidak mau mengampuni sesama kita hanya bersalah sedikit kepada kita?

Sebagaimana Tuhan mengasihi manusia tanpa batas, demikianlah manusia seharusnya mengasihi sesamanya seperti itu. Bila Tuhan tidak henti-hentinya mau mengampuni manusia yang berdosa, sudah selayaknya manusia juga terus-menerus memberikan pengampunan kepada sesamanya. Tidak ada batasan bagi kita berapa kali harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Kita telah mendapatkan pengampunan dari Allah, dan Ia tidak menghitung seberapa besar dosa yang telah kita lakukan dan berapa kali Ia harus mengampuni dosa kita.