Yang Telah Dipersatukan Allah Tidak Boleh Diceraikan Manusia

Jumat, 12 Agustus 2022 – Hari Biasa Pekan XIX

76

Matius 19:3-12

Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kata mereka kepada-Nya: “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?” Kata Yesus kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zina.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya: “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.”

***

Orang-orang Farisi datang untuk mencobai Yesus. Mereka bertanya kepada-Nya tentang boleh tidaknya seorang suami menceraikan istrinya dengan alasan apa saja. Menganggapi pertanyaan itu, Yesus menyatakan bahwa sejak semula Allah tidak menghendaki adanya perceraian. Allah sendirilah yang mempersatukan suami dan istri dalam ikatan perkawinan. Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan, dan selanjutnya mereka disatukan dalam perkawinan, sehingga menjadi satu daging. Mereka bukan lagi dua, melainkan satu.

Ajaran Yesus dalam perikop ini merupakan penegasan atas ajaran yang disampaikan melalui kisah penciptaan perempuan: Persatuan laki-laki dan perempuan dalam perkawinan adalah kehendak Allah. Namun, Yesus juga dengan tegas menambahkan bahwa apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia. Allah mempersatukan laki-laki dan perempuan dalam suatu ikatan perkawinan, dan manusia tidak mempunyai hak untuk menceraikan persatuan yang diciptakan Allah tersebut.

Namun, mereka lalu mengajukan pertanyaan mengapa Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika seorang suami menceraikan istrinya. Satu-satunya perikop dalam Taurat yang berbicara tentang perceraian adalah Ul. 24:1-4. Perikop ini menunjukkan bahwa menurut hukum Musa, seorang suami boleh menceraikan istrinya dengan memberikan surat cerai. Tanggapan Yesus sungguh mengejutkan dan terasa begitu keras. Bagi Yesus, izin itu diberikan semata-mata karena tuntutan dan desakan manusia, bukan karena mengikuti kehendak Allah. Yesus tidak menerima anggapan bahwa istri adalah milik suami. Ia memandang keduanya setara karena sama-sama diciptakan oleh Allah dan disatukan-Nya menjadi satu daging. Siapa pun pihak yang merusak hubungan suami istri jelas keliru.

Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan, dan menyatukan mereka dalam perkawinan, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Yesus dengan tegas menambahkan bahwa apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia. Allah mempersatukan laki-laki dan perempuan dalam ikatan perkawinan, dan manusia tidak mempunyai hak untuk menceraikan persatuan yang diciptakan Allah tersebut. Tegasnya, tidak dibenarkan seorang suami menceraikan istrinya, sebab tindakan itu bertentangan dengan kehendak Allah yang dinyatakan sejak awal mula dunia.