Para Pemilik Surga

Sabtu, 13 Agustus 2022 – Hari Biasa Pekan XIX

44

Matius 19:13-15

Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ.

***

Orang-orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas anak-anak itu dan mendoakan mereka. Yesus telah menjadi tokoh yang dikagumi banyak orang, baik karena dapat menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, maupun karena Ia adalah seorang pengajar yang berwibawa. Namun, lebih dari itu, Ia telah menyampaikan banyak berkat kepada mereka yang membutuhkan. Para orang tua yang melihat Yesus segera menginginkan anak mereka menjadi seperti Dia, dan agar anak-anak mereka mendapatkan berkat dari-Nya.

Namun, niat mereka untuk membawa anak-anak itu kepada Yesus dihalang-halangi oleh para murid. Mereka memarahi orang-orang itu. Tidak dikatakan mengapa para murid melakukan hal itu. Mungkin mereka berpikir bahwa kehadiran anak-anak itu hanya akan mengganggu Yesus. Selama ini memang Yesus hanya berurusan dengan orang-orang dewasa. Ia tidak pernah mengurusi anak-anak.

Tindakan para murid tidak disetujui oleh Yesus. Anak-anak itu tidak menjadi gangguan sama sekali bagi-Nya. Yesus justru menunjuk anak-anak sebagai contoh dan sebagai jalan masuk Kerajaan Allah. Menurut-Nya, orang-orang seperti mereka itulah yang akan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Dengan ini, Yesus memberitakan bahwa Kerajaan Surga bukanlah milik orang-orang yang berkuasa dan terkemuka, melainkan milik orang-orang lemah, terabaikan, orang kecil, dan “orang-orang terakhir” dalam masyarakat. Yesus menyambut orang-orang berdosa dan mereka yang tidak memiliki status sosial. Merekalah yang memiliki Kerajaan Surga, bukan karena status mereka, melainkan karena hubungan mereka dengan Yesus dan perhatian Yesus terhadap mereka.

Yesus tidak menyinggung soal keluguan atau kepolosan anak-anak. Dalam masyarakat Yahudi zaman itu, anak-anak termasuk golongan orang yang tidak berdaya dan yang bergantung pada orang lain. Seorang anak tidak dapat bekerja dan mencukupi apa yang diperlukan untuk kehidupannya. Ia hanya menerimanya dari orang lain, yaitu orang tuanya. Demikianlah orang harus menerima Kerajaan Surga sebagai ganjaran, bukan sebagai hasil kerja kerasnya.

Lalu Yesus meletakkan tangan-Nya di atas anak-anak itu untuk memberkati mereka. Tindakan Yesus ini senada dengan yang dilakukan-Nya terhadap para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Ia makan bersama-sama dengan mereka, dan mereka bergembira menyambut-Nya. Orang yang percaya kepada Yesus harus sadar bahwa dirinya adalah orang berdosa yang dikasihi Tuhan. Ia mengharapkan kehidupan kekal dan percaya bahwa hanya Allah yang dapat mengaruniakannya. Karena itu, orang beriman menyerahkan hidupnya kepada Allah dan senantiasa siap melakukan kehendak-Nya.