Keluarga Allah

Selasa, 20 September 2022 – Peringatan Wajib Santo Andreas Kim Taegon, Paulus Chong Ha-sang, dan Kawan-kawan

61

Lukas 8:19-21

Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak. Orang memberitahukan kepada-Nya: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” Tetapi Ia menjawab mereka: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”

***

Hari ini kita memperingati St. Andreas Kim Taegon, Paulus Chong Ha-sang, dan kawan-kawan, para martir Korea. Mereka dikanonisasi pada tahun 1984 oleh Paus Yohanes Paulus II. Uniknya, dari 98 orang Korea tersebut, sebagian besar di antaranya adalah kaum awam, dengan rincian 47 perempuan dan 45 laki-laki. Gereja Katolik di Korea memang didirikan oleh kaum awam. Mereka bertahan bertahun-tahun lamanya tanpa Ekaristi. Mereka mampu melewati masa-masa penindasan yang datang silih berganti.

Yesus bersabda, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” Para martir Korea telah menunjukkan bahwa mereka sungguh menjadi keluarga ilahi. Seturut sabda Yesus, keluarga ilahi dibangun atas dasar spiritual, alih-alih ikatan emosional atau ikatan darah. Iman menjadi identitas dari keluarga ilahi. Iman tumbuh dari sikap mendengarkan dan rendah hati, lalu meresap ke dalam hati dan menjadi pegangan hidup. Pada akhirnya, iman berbuah dalam tindakan. Apabila datang tantangan, dengan iman, orang tetap berdiri teguh dan siap berkorban. Itulah iman yang hidup. Iman seperti itulah yang ditunjukkan oleh para martir Korea, yang semestinya kita hidupi juga.

Saudara-saudari terkasih, kita adalah anggota keluarga Allah berkat sakramen baptis. Namun, sudahkah kita sungguh hidup seturut identitas tersebut? Sabda Yesus hari ini mengajak kita untuk berefleksi secara lebih mendalam dan memperbarui diri, supaya kita benar-benar memiliki iman yang hidup. Venerabilis Fulton Sheen berkata, “Bila semua orang Katolik menghidupi imannya, setiap orang akan menjadi Katolik.” Para martir Korea telah menunjukkannya. Marilah kita mengikuti teladan mereka. Santo Andreas Kim Taegon dan para martir Korea, doakanlah kami!