Penerimaan dan Mukjizat

Minggu, 7 Juli 2024 – Hari Minggu Biasa XIV

66

Markus 6:1-6

Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mukjizat-mukjizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka.

Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.

***

Kisah kembalinya Yesus ke kampung asal-Nya bersama para murid, lalu ditolak oleh orang-orang sekampung-Nya, merupakan kisah yang menarik. Sebenarnya apa yang menyebabkan orang-orang itu menolak Yesus? Ada yang mengatakan karena mereka tidak sungguh mengenal Yesus. Ada pula yang menilai bahwa mereka tidak menerima-Nya dengan benar. Pendapat lain mengatakan bahwa masalah orang-orang tersebut adalah ketidakpercayaan. Mereka tidak percaya, sehingga tidak dapat menerima perubahan diri Yesus.

Dalam ilmu psikologi, ada istilah fleksibilitas kognitif. Ini merupakan kemampuan manusia untuk beradaptasi terhadap kondisi lingkungan baru dan yang tidak terduga. Ada beberapa tahapan proses yang terjadi dalam kemampuan ini. Pertama, terjadi proses pembelajaran melalui pengalaman. Kedua, pembentukan strategi adaptasi yang kemudian dipakai manusia untuk menyelidiki masalah, sehingga nantinya perubahan perilaku bisa dicapai. Jadi, setelah orang belajar lewat pikiran dan pengalamannya, keberhasilan adaptasi akan terlihat melalui perilakunya. Inilah yang tidak dimiliki oleh orang-orang sekampung Yesus.

Mereka sudah mengenal Yesus dan keluarga-Nya dengan baik. Namun, Yesus yang dahulu mereka kenal adalah Yesus si Anak tukang kayu yang belum mulai berkarya dan belum menunjukkan kuasa-Nya. Saat Yesus pulang kampung bersama murid-murid-Nya, terjadi perubahan perilaku yang menakjubkan. Ia mengajar di rumah ibadat dengan penuh hikmat dan melakukan mukjizat serta menyembuhkan orang-orang sakit. Ini sesuatu yang tidak terduga, sesuatu yang sama sekali baru!

Fleksibilitas kognitif tergantung pada cara manusia berfokus dalam menilai situasi dan merencanakan perilaku atau tindakan baru. Orang-orang sekampung Yesus gagal mendeteksi situasi perubahan yang terjadi pada diri Yesus. Mengapa Dia bisa mengajar dengan penuh hikmat dan membuat mukjizat? Mereka hanya sampai pada pertanyaan itu saja, tidak berusaha menemukan jawabannya. Kegagalan itu berlanjut dengan kegagalan menilai situasi yang baru. Si Anak tukang kayu datang bersama followers-Nya dan mampu membuat takjub jemaat. Seharusnya saat itu mereka bisa menilai bahwa memang ada sesuatu yang telah terjadi di luar pengetahuan mereka. Seandainya saat itu mereka melakukan penyelidikan, kemungkinan besar mereka akan dapat memahami dan mampu melakukan modifikasi atas sikap dan tindakan mereka terhadap Yesus, berhenti memperlakukan Yesus sebagai Anak tukang kayu.

Kaku dan gagap secara kognitif sering kali mendorong manusia memberikan penolakan secara spontan, dan hanya mau menerima situasi dan kondisi lama. Penolakan berarti pula menutup pintu. Seperti yang terjadi dalam kisah penolakan terhadap Yesus, pintu rahmat bagi orang-orang sekampung-Nya pun tertutup. Tidak ada mukjizat. Sebaliknya, jika kita memiliki fleksibilitas kognitif, kita membuka pintu-pintu kesempatan bagi diri kita sendiri untuk berubah menjadi lebih adaptif pada situasi dan kondisi hidup yang baru, yang mungkin tidak kita harapkan. Itu berarti ada penerimaan. Penerimaan berarti pula damai. Di mana ada damai di situ Tuhan hadir. “TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera” (Bil. 6:26). Di saat itulah pintu rahmat terbuka dan mukjizat dapat terjadi!