Maria, Bunda Allah

Kamis, 1 Januari 2026 – Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah

84

Lukas 2:16-21

Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.

***

Selamat tahun baru 2026! Kita sudah melewati banyak hal dalam perjalanan hidup kita sepanjang tahun 2025. Yang harus selalu kita syukuri adalah bahwa karya Tuhan masih kita rasakan pada awal tahun yang baru ini.

Mengiringi rasa syukur kita, hari ini kita diajak untuk mendalami semangat hidup Maria yang diberi gelar sebagai Bunda Allah. Pemberian gelar Bunda Allah ini tidak terlepas dari perannya dalam peristiwa kehadiran Allah sebagai manusia. Dengan melahirkan Putra Allah, Maria sekaligus melahirkan Gereja. Ia menjadi ibu dan perantara bagi semua umat.

Pada saat melahirkan Kristus, hati Maria yang tidak bernoda dipenuhi oleh cinta dan rahmat yang meluap-luap tak terhingga. Kasih dan anugerah ilahi yang memenuhi dirinya begitu besar. Kehadiran sang Anak, ditemani oleh Yusuf, suaminya, di dalam gua suci di Betlehem sudah cukup memberikan kebahagiaan yang sempurna bagi Maria. Namun, Tuhan mengaruniakan lebih dari itu.

Pada malam yang penuh berkat itu, malaikat Tuhan menampakkan diri kepada para gembala sederhana yang menjaga kawanan mereka di padang rumput. Malaikat itu menyampaikan berita agung, kabar baik yang akan menjadi sukacita bagi segala bangsa, bahwa Mesias telah lahir di kota Daud. Berita tersebut mendorong para gembala untuk segera bergerak menjumpai sang Mesias. Ketika mereka akhirnya bertemu dengan-Nya, mereka berbagi kisah tentang pesan malaikat tersebut kepada Maria dan Yusuf. Dengan penuh kasih, Maria menyimpan semua hal itu di dalam hatinya dan merenungkannya dengan mendalam.

Hati Maria yang tidak bernoda dan yang murni penuh kasih keibuan menjadi pusat perayaan kita hari ini. Saat menerima penghormatan dari para gembala, Maria membalasnya dengan menunjukkan sikap yang tepat, yang menegaskan perannya sebagai instrumen kasih ilahi lewat Putranya. Maria bukan hanya ibu secara fisik bagi Yesus, melainkan juga ibu bagi pribadi yang adalah Putra Allah sendiri. Oleh sebab itu, Gereja dengan bijaksana menganugerahkan gelar Bunda Allah kepadanya, sebab Yesus adalah Putranya dan Yesus adalah Allah. Penghormatan tertinggi ini kiranya memang pantas diberikan kepadanya.

Sebagai Bunda Allah, hati Maria yang tidak bernoda terus memancarkan kasih tanpa henti. Sama seperti terhadap para gembala dahulu, hati Maria kini mencurahkan kasih terhadap kita sebagai putra dan putri rohaninya. Sejauh kita hidup sebagai anggota tubuh Kristus, yakni Gereja, Bunda Maria senantiasa hadir dalam kehidupan kita, dalam suka maupun duka.