Iman yang Tangguh

Kamis, 16 April 2026 – Hari Biasa Pekan II Paskah

6

Yohanes 3:31-36

“Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari surga adalah di atas semuanya. Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”

***

Ada yang masih berpandangan bahwa jika manusia beribadah dengan tekun dan menjalankan perintah Tuhan dengan taat, hidupnya pasti akan terjamin. Ia pasti akan mengalami perlindungan, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Karena itu, banyak orang berbuat baik demi mendapatkan kembali kebaikan itu. Ini sebenarnya konsep “memberi dan menerima” atau siklus timbal balik. Hubungan dengan Tuhan dipandang berjalan secara resiprokal. Namun, apakah Kitab Suci kita mengajarkan demikian?

Konsep kebaikan berbalas kebaikan kiranya tidak selaras dengan hidup menurut ajaran Yesus. Buktinya adalah Yesus sendiri. Dia yang adalah Anak Allah kemudian menjadi manusia, tetapi tidak bergelimang harta. Ia bahkan harus menanggung penghinaan, fitnah, hingga mati disalibkan. Jika memakai nalar manusia, di mana perlindungan Allah, di mana kebahagiaan dan kesejahteraan dalam kisah hidup Yesus yang tragis? Demikian pula dalam kisah hidup para rasul yang ditangkap, dipenjarakan, bahkan banyak yang kemudian dibunuh. Setelah menjadi pengikut Kristus dan bersedia setia serta taat, hidup mereka ternyata tidak menjadi aman, mudah, dan terjamin. Lalu, mengapa mereka mau tetap setia mengikuti Tuhan?

Dalam mazmur hari ini (Mzm. 34), kita menemukan puji-pujian untuk Tuhan, “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!” (ay. 9). Pujian ini bukan sekadar untaian kata-kata indah yang kosong, melainkan merupakan pujian yang terlontar dari mulut orang-orang yang telah sungguh merasakan keselamatan Tuhan, orang-orang yang pernah patah hati dan remuk jiwanya.

Manusia yang beriman, beribadah dengan tekun, dan berusaha menaati ajaran Tuhan karena berharap akan memiliki hidup yang mudah, aman, dan sejahtera sebenarnya memiliki iman yang rapuh. Iman itu mudah goyah, bahkan mungkin bisa hancur jika kehidupan berubah arah menjadi tidak baik-baik saja. Ia akan mempertanyakan, bahkan menuntut Tuhan, karena baginya ini adalah soal “memberi dan menerima”.

Sementara itu, orang yang beriman karena telah melihat dan merasakan kebaikan Tuhan, yakni setelah dirinya melewati gelapnya penderitaan, akan memiliki iman yang militan seperti para rasul. Penjara, ancaman, kesulitan, dan penderitaan tidak akan menjadi momok menakutkan bagi mereka. Semuanya itu bahkan menjadi bagian dari perjalanan iman mereka mengikuti Sang Guru. Kebahagiaan, perlindungan, dan kesejahteraan di dunia tidak lagi menjadi iming-iming untuk beriman. Mereka telah merasakan kebaikan Tuhan, sehingga percaya dan mau menjadi saksi atas kebaikan itu. Ini bukan lagi relasi resiprokal dengan Sang Pencipta, melainkan relasi kasih tanpa syarat.

Iman harus melampaui akal dan pikiran. Iman juga harus mampu melampaui rasa dan situasi. Hidup tidak akan pernah menjadi pasti. Ada desolasi, ada konsolasi; ada sedih, ada pula bahagia. Yang Tuhan inginkan dari kita adalah setia dan taat, menjadi orang benar sesuai ajaran-Nya di dalam situasi hidup apa pun. Hendaknya kita memiliki iman yang tahan banting, iman yang tangguh. Tuhan tidak pernah menjamin hidup yang tanpa hujan dan badai. Namun, dalam situasi teduh maupun badai, Tuhan berjanji akan selalu ada. Ia selalu baik dan setia pada janji-Nya untuk menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. Itulah yang dikatakan oleh Pemazmur, “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu” (ay. 20).