
Yohanes 6:16-21
Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sedang laut bergelora karena angin kencang. Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Aku ini, jangan takut!” Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui.
***
Manusia sering kali tergesa-gesa dan terburu-buru, ingin melakukan sesuatu dengan cepat, dan merasa dikejar-kejar waktu. Bukan hanya zaman sekarang, hal ini sudah sering terjadi sejak zaman dahulu. Hari ini, kita melihat perilaku tergesa-gesa para murid Yesus. Mereka sudah naik ke perahu untuk menyeberang ke Kapernaum, padahal Yesus tidak bersama mereka. Untuk apa mereka melakukan itu? Mereka sepertinya lupa akan tugas mereka, yakni mengikut Yesus.
Sikap tergesa-gesa dapat membuat fokus menjadi buyar. Fungsi kognitif menurun karenanya, sehingga penilaian dan keputusan manusia bisa menjadi buruk. Manusia menjadi mudah stres ketika situasi tidak sesuai dengan yang diharapkan atau direncanakan, serta menjadi mudah frustrasi dan iritasi terhadap orang lain yang memiliki gerak yang lebih lambat. Akibatnya, kecemasan meningkat, begitu pun dengan risiko kesehatan fisik dan mental.
Sikap tergesa-gesa juga berdampak besar terhadap kemampuan manusia dalam berinteraksi di lingkungan sosial. Perhatian pada orang-orang di sekeliling berkurang; salah paham mudah terjadi. Meskipun raga seseorang ada bersama dengan orang-orang lain, pikiran dan jiwanya melompat ke sana kemari, berada di tempat berbeda. Apa yang ada di depan mata menjadi tidak terlihat.
Ketergesa-gesaan juga membuat manusia cenderung menjadi kurang ramah. Menjalin relasi yang dalam dan intim tidak lagi menjadi penting karena membutuhkan investasi waktu yang panjang. Manusia merasa tidak memiliki waktu dan selalu berusaha menghemat waktu. Yang dikejar adalah efisiensi, bukan lagi kualitas. Akibatnya, jangan heran jika ada orang-orang yang tampaknya memiliki banyak teman, tetapi merasa tidak dimengerti oleh semua orang di dunia ini. Banyak orang mudah merasa kesepian karena relasi yang superfisial. Ini fenomena dunia saat ini.
Apa pesan bacaan Injil hari ini mengenai ketergesa-gesaan? Yesus mengundurkan diri ke gunung setelah Ia memberi makan lima ribu orang. Biasanya Ia mengundurkan diri untuk berdoa, dan itu dilakukan-Nya tanpa tergesa-gesa. Bagi Yesus, waktu untuk bertemu dan berelasi dengan Bapa merupakan hal penting yang tidak boleh digagalkan oleh rasa cemas akan rencana-rencana selanjutnya. Relasi yang kuat dibangun bukan dengan kata-kata manis, melainkan dengan tindakan nyata untuk melakukan komunikasi intens dengan pihak lain.
Setelah selesai berdoa, barulah Yesus pergi menyusul murid-murid-Nya yang saat itu tengah berjuang mendayung di danau yang bergelora karena angin kencang. Dari gambaran situasi ini, kita dapat melihat bahwa tidak ada sesuatu pun yang mampu menghalangi kedatangan atau rencana Yesus. Meskipun jarak mereka terpisah oleh danau dan ancaman badai, Yesus tetap dapat menghampiri murid-murid-Nya dengan berjalan di atas air. Ajaibnya, saat Ia naik ke atas perahu, seketika itu juga mereka sampai ke tujuan!
Kita akan sampai ke tujuan. Itu janji Yesus. Tidak perlu tergesa-gesa dalam hidup. Lakukanlah hal kecil maupun besar dengan tenang dan sepenuh hati. Jalani dan nikmatilah prosesnya, termasuk ketika kita menyapa, tersenyum, dan menjalin relasi dengan sesama maupun Tuhan. Berikanlah perhatian penuh untuk setiap gerakan dan langkah kita. Tidak perlu tergesa-gesa, kita akan tetap sampai ke tujuan jika memang sesuai dengan rencana Tuhan. Tidak ada sesuatu pun yang mampu menghalangi kehendak Tuhan jika Ia berkenan. Percayalah, ada waktu untuk segalanya.










