
Yohanes 6:30-35
Maka kata mereka kepada-Nya: “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”
Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”
***
“Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”
Orang-orang menantang Yesus untuk memberi tanda. Bangsa Israel punya pengalaman dijaga dan dicintai Allah lewat pengalaman di padang gurun. Mereka diberi makan manna saat melakukan perjalanan panjang di padang gurun.
Yesus memberi jawab bahwa Dia adalah tanda yang nyata dari cinta Allah. Yesus adalah roti hidup yang memberi makanan dan kekuatan bagi manusia. Hidup Yesus secara penuh didedikasikan untuk keselamatan manusia. Yesus membawa manusia kembali kepada hakikatnya sebagai putra-putri Allah.
Kita mungkin suka mencari tanda atau menunggu tanda. Kita menunggu tanda sampai lupa bahwa kita masing-masing adalah tanda yang nyata dari kehadiran Allah. Daripada sibuk mencari tanda, kita sebaiknya bertanya: Tanda apa yang bisa kita buat lewat hidup kita? Seorang ibu atau ayah bisa menjadi tanda dengan sungguh-sungguh memberikan waktu untuk menemani anak-anak mereka. Seorang pelajar sungguh-sungguh menjadi tanda dengan menjadi sahabat yang baik untuk teman-temannya. Seorang guru sungguh-sungguh menjadi tanda dengan memberikan ruang aman bagi murid-muridnya.
Kebangkitan hadir ketika kita menjadi tanda totalitas dalam tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita. Kita semua diberi rahmat yang cukup untuk menjadi tanda.
Siapkah kita menjadi tanda kehadiran Allah di tengah dunia?










