Kebangkitan: Momen Peduli

Rabu, 22 April 2026 – Hari Biasa Pekan III Paskah

8

Yohanes 6:35-40

Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya. Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.”

***

Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.”

Kita semua diciptakan sebagai pribadi yang begitu istimewa dan berharga. Kita dicintai secara penuh oleh Allah. Di sisi lain, agak aneh kalau kita bicara tentang diri kita terus-menerus. Bukankah pengalaman Paskah menunjukkan Allah yang peduli, Allah yang hadir di tengah-tengah kita, masuk ke dalam keruwetan hidup manusia, menderita bersama manusia, dan akhirnya menyelamatkan manusia?

Tatapan Allah selalu tertuju pada manusia. Allah ingin memberikan yang terbaik baik kita. Pengalaman kebangkitan sebenarnya bisa kita temukan ketika kita memikirkan dan mengusahakan kebaikan bagi sesama. Ketika kita mau peduli dan berjuang untuk kebaikan sesama, itulah pengalaman kebangkitan yang konkret.

Ketika orang tua berusaha menjadi teladan yang baik untuk anak-anak mereka, ketika seorang muda mengusahakan lingkungan dan relasi yang aman dengan teman-temannya, ketika seorang pengusaha mau memberikan upah yang baik dan layak untuk karyawannya, itu adalah pengalaman kebangkitan.

Siapkah kita menjadi repot untuk kebaikan orang lain?