Kebangkitan: Pengalaman Penyerahan Diri

Jumat, 24 April 2026 – Hari Biasa Pekan III Paskah

10

Yohanes 6:52-59

Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat.

***

Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.

Setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita menerima roti dan anggur yang adalah tubuh dan darah Kristus. Pengalaman iman tersebut bukan hanya suatu ritual yang kita lakukan secara rutin, melainkan juga pengalaman yang mampu membuat diri kita mengalami transformasi.

Tubuh dan darah Kristus adalah gerak aktif Tuhan yang membawa keselamatan dan kehidupan bagi dunia. Itulah sumber kehidupan sejati yang tidak dapat digantikan oleh kecanggihan dan spiritualitas model apa pun. Penyerahan diri Tuhan adalah pengalaman puncak pembaruan dan keselamatan ciptaan.

Momen kebangkitan adalah momen penyerahan diri. Menyerahkan diri berarti berani memberikan apa yang ada dalam diri kita, yakni segala kekuatan, keterbatasan, permasalahan, keberanian, ketakutan, dan segi-segi lain kehidupan pribadi kita. Seorang ibu atau bapak yang menyerahkan diri demi perkembangan anak akan memberikan apa yang dia punya secara total tanpa berhitung-hitung. Seorang guru yang sungguh menjadi pendidik sejati akan memberikan diri untuk mengembangkan anak didiknya menjadi pribadi yang utuh tanpa berhitung-hitung. Seorang sahabat sejati akan menyerahkan diri dengan berusaha membangun lingkungan yang aman bagi orang-orang di sekitarnya tanpa berhitung-hitung.

Pengalaman kebangkitan lewat penyerahan diri tidak bisa dinalar dengan logika bisnis untung dan rugi. Logika bisnis bukanlah logika Kristus. Logika Kristus adalah tubuh dan darah-Nya, yakni penyerahan diri sehabis-habisnya. Siapkah kita menyerahkan diri tanpa berhitung-hitung?