Pintu Kehidupan

Minggu, 26 April 2026 – Hari Minggu Paskah IV

13

Yohanes 10:1-10

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari darinya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”

Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.

Maka kata Yesus sekali lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”

***

Dunia membutuhkan pemimpin yang bijak dan membawa masyarakat kepada kedamaian dan keselamatan. Kategori pemimpin seperti ini dapat ditemukan dalam diri beberapa pemimpin negara di dunia ataupun pemimpin di daerah, yaitu mereka yang bekerja untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk diri sendiri dan kelompoknya. Fakta adanya perang di beberapa negara di dunia menunjukkan bahwa dunia membutuhkan pemimpin yang membawa perdamaian bukan perang, kesejahteraan bukan kemelaratan, serta keselamatan bukan ancaman. Pemimpin yang baik menjadi pintu masuk kepada kehidupan, keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Yesus menyebut diri-Nya sebagai gembala yang baik. Ada dua gambaran yang dipakai untuk menjelaskan kegembalaan Yesus. Pertama, Yesus menyebut dirinya sebagai pintu, tempat domba-domba keluar masuk dan menemukan padang rumput. Pintu juga berarti yang menjaga, agar setelah masuk ke situ para domba aman dari ancaman serigala atau perampok. Berbeda dengan perampok dan pencuri yang justru mengancam keberadaan domba, pintu justru mengamankan mereka, memastikan mereka hidup karena bisa menemukan dan menikmati padang rumput hijau.

Kedua, Yesus juga mengatakan dirinya sebagai gembala, yaitu orang yang memiliki kawanan domba dan memiliki relasi yang akrab dengan domba-domba. Gembala mengenal domba-dombanya secara pribadi, dekat dengan domba-dombanya, menuntun dan memimpin domba-domba ke rumput yang hijau dan air yang tenang. Gembala menuntun domba-dombanya kepada kehidupan, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Domba-domba pun mengenal gembala yang baik itu. Mereka mengenal suaranya, mengenal bau sang gembala. Gembala ini dibedakan dengan orang asing yang tidak mengenal domba dan tidak dikenal oleh domba-domba.

Dengan kedua gambaran itu, Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai gembala yang baik bagi domba-domba. Gembala yang baik menjadi pintu kepada kehidupan bagi domba-domba: “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”

Gereja zaman ini membutuhkan gembala-gembala yang baik seperti Yesus. Gembala yang baik adalah imam-imam yang membawa domba-dombanya kepada kehidupan, hidup yang damai dan sejahtera secara rohani dan jasmani. Domba-domba membutuhkan gembala yang dekat dengan mereka, mengenal dan mengusahakan kehidupan yang lebih baik, agar hidup rohani mereka terus bertumbuh. Gembala yang dicari adalah gembala yang menjadi pintu kepada kehidupan yang bahagia dan damai, bukan yang dikuasai oleh ketakutan dan ancaman. Imam-imam yang kasar, pemarah, korup, dan melecehkan adalah seperti pencuri, perampok, atau orang asing bagi domba-domba.

Pesan tentang gembala yang baik kiranya tidak hanya relevan untuk para imam, tetapi juga untuk semua pengikut Kristus. Sebagai pencinta Yesus, semua orang dipanggil untuk menjadi gembala yang baik di semua tempat, baik dalam keluarga, tempat kerja, maupun dalam hidup bermasyarakat. Jadilah gembala yang baik bagi semua orang yang dipercayakan kepada kita. Jadilah orang beriman yang membawa orang lain kepada kehidupan yang berkelimpahan, hidup yang berlimpah akan damai, kasih, keadilan, kesejahteraan, dan sukacita.