Bersikap, Berbuat, dan Memilih dengan Tepat

Selasa, 23 Juni 2026 – Hari Biasa Pekan XII

7

Matius 7:6,12-14

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”

***

Bacaan Injil hari ini menghimpun tiga ajaran Yesus yang berbeda-beda, yang disampaikan-Nya di bagian akhir khotbah di bukit. Jika ketiganya dihubungkan, dapat kita katakan bahwa Yesus di sini mengajarkan perlunya kita bersikap, berbuat, dan memilih dengan tepat.

Pertama, bersikap dengan tepat. Sikap yang dimaksud adalah terhadap Injil dan para pendengarnya. Injil dilambangkan sebagai daging kurban persembahan di Bait Allah dan mutiara. Daging kurban adalah barang yang kudus, sedangkan mutiara adalah barang yang berharga. Keduanya hanya pantas diberikan kepada mereka yang layak, alih-alih kepada anjing atau babi, binatang-binatang yang menajiskan. Bagi para utusan, ini adalah pesan bahwa Injil akan diterima oleh mereka yang dikehendaki Bapa, sehingga tidak perlu dipaksakan kepada orang-orang yang menolaknya. Jangan berkecil hati bila mengalami penolakan. Serahkanlah itu kepada Bapa yang akan menyelesaikan semuanya. Apa pun yang terjadi, tetaplah bersemangat dalam mewartakan Kabar Baik.

Kedua, berbuat dengan tepat. Yesus mengajarkan kepada kita agar berbuat terhadap orang lain seperti yang kita inginkan diperbuat orang lain terhadap kita. Ini adalah ungkapan lain untuk salah satu hukum yang paling utama, yakni mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Kalau kita ingin dikasihi orang lain, kita pun harus mengasihi orang lain. Kalau kita ingin diperlakukan baik oleh orang lain, kita harus memulainya dengan berbuat baik kepada orang lain. Alih-alih sikap pamrih atau mengharapkan pembalasan setimpal, Yesus dengan ini mengajarkan kita untuk menjadi pribadi-pribasi yang berkomitmen. Jangan hanya menuntut orang lain melakukan sesuatu kepada kita, kita pun memiliki kewajiban untuk berkontribusi bagi kehidupan bersama.   

Ketiga, memilih dengan tepat. Yesus di sini berbicara tentang Kerajaan Allah. Semua orang ingin diterima ke dalam Kerajaan Allah, tetapi banyak yang tidak berhasil karena masuk melalui pintu yang salah, yakni pintu yang lebar. Pintu yang lebar ini merujuk pada kemudahan-kemudahan duniawi, sehingga banyak dipilih karena menawarkan kenikmatan dan kenyamanan, tidak peduli bahwa hal itu bertentangan dengan kehendak Allah. Sebagai murid-murid Yesus, kita diajak untuk memilih dengan tepat, yakni dengan masuk melalui pintu yang sesak. Pintu ini melambangkan kehendak Allah yang sering kali mendatangkan salib dan penderitaan, tetapi sebenarnya mengantar pada keselamatan.  

Sabda-sabda kebenaran yang disampaikan Yesus di atas bukit menuntut kita untuk melakukan sesuatu, lebih dari sekadar rasa haru dan tersentuh ketika kita mendengarkannya. Tunjukkanlah bahwa sabda-sabda itu benar-benar mengubah diri kita, dari yang sebelumnya penuh dosa menjadi pribadi yang baru karena pertobatan. Bersikaplah dengan tepat, baik sebagai utusan Allah, sebagai umat Allah, maupun sebagai pribadi yang merindukan Kerajaan Allah. Mari kita ingat bahwa iman yang sejati pasti menggerakkan hidup seseorang ke arah yang lebih baik.