Belajar dari Tuhan

Rabu, 15 Juli 2026 – Peringatan Wajib Santo Bonaventura

5

Matius 11:25-27

Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.”

***

Yesus memanjatkan doa syukur kepada Bapa karena rahasia Kerajaan Allah tidak dinyatakan kepada orang-orang yang merasa diri bijaksana dan pandai, tetapi kepada orang-orang kecil dan sederhana. Teks ini menegaskan bahwa pengenalan akan Allah bukan terutama hasil dari kemampuan intelektual manusia, melainkan merupakan anugerah yang diberikan kepada mereka yang rendah hati dan terbuka terhadap karya-Nya. Yesus juga mengungkapkan hubungan-Nya yang unik dengan Bapa: Hanya Anak yang mengenal Bapa secara sempurna, dan hanya melalui Anak, manusia dapat mengenal Bapa. Dengan demikian, Yesus menjadi satu-satunya jalan yang membawa manusia kepada pengenalan yang benar akan Allah dan kepada persekutuan yang mendalam dengan-Nya.

Kita diajak untuk menghayati kerendahan hati sebagai dasar kehidupan iman. Di tengah kecenderungan manusia untuk mengandalkan kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman pribadi, Yesus menunjukkan bahwa hati yang sederhana justru lebih mudah menerima terang dan kehendak Allah. Semangat ini tampak dalam kehidupan Santo Bonaventura, seorang uskup dan pujangga Gereja yang terkenal karena kedalaman pemikiran teologisnya. Meskipun memiliki kecerdasan luar biasa, Santo Bonaventura mengajarkan bahwa pengetahuan sejati tentang Allah tidak hanya diperoleh melalui studi, tetapi juga melalui doa, kontemplasi, dan kasih. Baginya, akal budi harus berjalan bersama dengan iman dan kerendahan hati. Teladan Santo Bonaventura mengingatkan kita bahwa makin seseorang mengenal Allah, makin ia menyadari keterbatasan dirinya dan makin bersandar pada rahmat Tuhan. Hikmat sejati lahir dari hati yang terbuka kepada Allah, bukan dari kesombongan intelektual.

Masyarakat kita sering mengukur keberhasilan berdasarkan prestasi akademis, jabatan, kekayaan, atau pengaruh sosial. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa banyak manfaat, tetapi tidak selalu membuat manusia makin bijaksana atau makin dekat dengan Allah. Banyak orang memiliki akses pada informasi yang melimpah, namun tetap mengalami kekosongan batin dan kehilangan arah hidup. Karena itu, Injil mengajak kita untuk memelihara sikap rendah hati, mau belajar dari Tuhan, dan membuka diri terhadap bimbingan Roh Kudus. Dengan hati yang sederhana, kita dapat mengenali kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun dalam pelayanan kepada sesama. Seperti diajarkan oleh Santo Bonaventura, perjalanan menuju Allah tidak hanya melalui pengetahuan, tetapi juga melalui kasih dan kontemplasi yang mendalam. Dengan demikian, kita dapat menemukan kebijaksanaan sejati yang memberi makna dan arah bagi hidup kita.