Untuk Yesus, bagiku Tidak Ada Sesuatu Pun yang Terlalu Berat

Jumat, 10 Juli 2026 – Hari Biasa Pekan XIV

6

Matius 10:16-23

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.”

***

Dalam wasiatnya, Muder M. Anselma BOPP, pendiri Kongregasi Suster-suster Fransiskanes dari St. Georgius Martir (FSGM), mengatakan kalimat yang saya jadikan judul dari renungan ini. Ungkapan ini, menurut saya, memiliki makna yang sangat mendalam. Muder Anselma menuliskan wasiatnya pada masa-masa akhir hidupnya yang harus menanggung rasa sakit karena menderita penyakit TBC. Penyakit ini dideritanya akibat kekurangan asupan gizi dan waktu untuk beristirahat di tengah padatnya pelayanan bagi masyarakat Thuine yang miskin. Meski begitu, beliau masih mampu berkata, “Untuk Yesus, bagiku tidak ada sesuatu pun yang terlalu berat.”

Hari ini, Yesus bersabda kepada para murid-Nya, “Waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya.” Penyesahan adalah hukuman fisik yang sangat menyakitkan. Menurut tradisi rabinik, prosesnya berlangsung sebagai berikut: Orang yang dihukum pertama-tama diikat dalam posisi membungkuk. Petugas kemudian mencambuknya menggunakan cambuk yang terbuat dari kulit. Pukulan didaratkan pada bagian dada dan punggung orang yang dihukum. Sementara hukuman berlangsung, ayat-ayat Kitab Suci tertentu dibacakan sebagai seruan agar orang itu bertobat.

Selain menyakitkan, hukuman yang demikian tentu sangat memalukan. Namun, Yesus berkata, “Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga.” Yesus selanjutnya berkata, “Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.” Pada waktu yang tepat, Yesus akan datang menolong dan membebaskan kita dari penderitaan yang diakibatkan oleh mereka yang membenci kita. Dia akan membebaskan kita dari beban yang kita pikul.

Friedrich Nietzsche berkata, “Orang yang mempunyai alasan untuk hidup dapat menanggung hampir segala cara hidup.” Artinya, orang akan sanggup memikul penderitaan yang besar apabila ia menemukan makna di balik penderitaan itu. Dalam pengalaman sehari-hari, setiap orang pernah melakukan sesuatu yang berat demi orang yang dicintainya. Seorang ibu rela begadang merawat anaknya yang sakit. Seorang ayah bekerja keras demi keluarganya. Bagi orang beriman, Yesus adalah sumber dan makna hidup kita. Karena itu, kesulitan yang dijalani demi Yesus tidak dipandang sebagai penderitaan yang sia-sia, tetapi sebagai ungkapan cinta dan kesetiaan kita kepada-Nya.