Jangan Membawa Bekal

Kamis, 9 Juli 2026 – Hari Biasa Pekan XIV

10

Matius 10:7-15

“Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.”

***

Bila hendak melakukan perjalanan, biasanya kita mempersiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu. Kita tergoda untuk membawa banyak hal, padahal kita tahu bahwa apa yang kita perlukan tersedia pula di perjalanan atau di tempat tujuan. Saya tergelitik dengan tindakan saya sendiri bila hendak bepergian. Saya begitu sibuk mempersiapkan ini dan itu, padahal apa yang saya persiapkan dengan detail itu belum tentu nanti saya sentuh. Saya pun bertanya-tanya: Apa yang mendasari persiapan saya yang berlebihan itu?

Bisa jadi itu karena kecenderungan saya untuk mandiri dan tidak mau menyusahkan orang lain. Pemikiran tentang kemandirian tentunya sangat baik, namun ada dampak sosialnya. Saya tidak perlu bergantung pada orang lain, juga tidak membutuhkan orang lain untuk membantu saya. Namun, bukankah dengan itu saya menutup kesempatan untuk mengalami kebaikan dari orang lain? Bukankah dengan itu saya juga menutup kesempatan bagi orang lain untuk menolong dan berbuat baik kepada saya?

Yesus memerintahkan para murid untuk mewartakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Namun, Ia melarang mereka untuk membawa bekal saat bepergian dalam rangka pewartaan itu. Mengapa demikian? Tradisi Israel kuno menjunjung tinggi keramahtamahan, yang juga menjadi kewajiban religius yang sangat penting. Dengan tidak membawa bekal, para murid membuka kesempatan bagi umat untuk ambil bagian dalam pewartaan Kerajaan Surga melalui penerimaan dan pemberian dukungan.

Keramahtamahan merupakan salah satu buah Roh, yakni kemurahan hati. Menurut Aristoteles, kebajikan bukan sekadar potensi, melainkan kebiasaan yang dibentuk melalui tindakan berulang. Seseorang menjadi murah hati dengan melakukan tindakan murah hati; seseorang menjadi penuh kasih dengan mengasihi. Jika tidak pernah diberi kesempatan untuk berbuat baik, potensi kebajikan dalam diri seseorang akan sulit berkembang. Mari kita belajar memberi kesempatan kepada saudara-saudari kita untuk melakukan kebaikan kepada kita.