Tubuh Adalah Sarana Penyembuhan

Senin, 6 Juli 2026 – Hari Biasa Pekan XIV

37

Matius 9:18-26

Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: “Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” Lalu Yesus pun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia: “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.

***

Ada kisah tentang seorang pemuda bernama Chandra yang selama enam bulan telah mendampingi mamanya menjalani perawatan di Jakarta. Pemuda berumur 18 tahun ini seharusnya sudah kuliah, tetapi karena mamanya harus berobat ke Jakarta dan menjalani perawatan di sana, ia fokus untuk mendampingi mamanya tersebut terlebih dahulu. Dengan telaten, Chandra juga menyiapkan kebutuhan mamanya, mulai dari makanan, buah-buahan, keperluan sehari-hari, dan sebagainya. Saat di rumah sakit, Chandra menjaga mamanya dengan baik, termasuk ke sana kemari mengurus administrasi. Ia melihat itu sebagai kewajiban seorang anak, tetapi juga sebagai wujud rasa sayangnya kepada sang mama.

Pengalaman yang sama mungkin pernah kita alami juga, di mana kita harus mendampingi salah seorang anggota keluarga kita yang sakit berkepanjangan. Sungguh itu bukan hal yang mudah. Bukan hanya pihak yang sakit, jiwa dan raga kita pun menjadi lelah karenanya. Karena tidak memiliki keahlian di bidang medis, kita bahkan sering kali tidak berdaya, dan merasa bahwa kehadiran kita itu tidak banyak membantu, bahkan tidak berfaedah sama sekali.

Hari ini, Yesus membuat dua mukjizat, yakni menyembuhkan perempuan yang sakit pendarahan dan menghidupkan kembali seorang anak perempuan yang telah mati. Kehadiran-Nya menghadirkan pemulihan. Yesus menggunakan tangan-Nya untuk memegang tangan anak itu, dan ternyata sentuhan tersebut menghidupkan anak itu kembali. Jumbai jubah Yesus bahkan menjadi sarana penyembuhan bagi perempuan yang sudah dua belas tahun mengalami pendarahan.

Saudara-saudari terkasih, kita tidak memiliki kuasa seperti Yesus, namun sesungguhnya setiap orang dipanggil untuk menghadirkan sentuhan Kristus bagi sesama. Tubuh, tangan, mata, dan telinga kita, bahkan kehadiran kita, adalah sarana penyembuhan. Banyak orang disembuhkan bukan oleh obat, melainkan oleh pelukan yang tulus. Seorang anak yang kecewa kembali tersenyum karena usapan lembut ibunya. Seorang yang putus asa memperoleh harapan kembali karena ada sahabat yang menemani dan menggenggam tangannya. Seorang yang lanjut usia merasa hidupnya berarti karena ada yang datang mengunjungi dan mendengarkan ceritanya. Semoga kita makin menyadari betapa berahmatnya tubuh kita.