Bukan Takut, tetapi Siap

Kamis, 27 Agustus 2026 – Peringatan Wajib Santa Monika

4

Matius 24:42-51

“Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.

Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

“Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.”

***

Saudara-saudari terkasih, dalam bacaan Injil hari  ini, Yesus berkata, “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” Sekilas, kata “berjaga-jaga” bisa membuat kita membayangkan seseorang yang terus-menerus waswas: Kapan Tuhan datang? Bagaimana kalau Ia datang ketika kita belum siap?

Menunggu seperti itu tentu melelahkan. Kita seperti seorang kriminal yang menyembunyikan kejahatannya, dan hidup dalam ketakutan bahwa sewaktu-waktu semuanya akan terbongkar. Setiap ketukan pintu membuatnya cemas. Setiap saat ia takut tertangkap. Kalau demikian cara kita menantikan Tuhan, iman menjadi beban, dan Tuhan terasa seperti hakim atau polisi yang terus mengawasi dan menyelidiki kita. 

Yesus menawarkan cara berjaga yang berbeda. Lihatlah hamba yang setia itu. Ia tidak berdiri di depan pintu sambil menunggu tuannya pulang. Ia tetap menjalankan tugas yang dipercayakan kepadanya. Ketika tuannya datang, ia ditemukan sedang melakukan kebaikan. Inilah kesiapsediaan kristiani. Kita tidak tahu kapan Tuhan datang, tetapi kita tahu bagaimana kita harus hidup hari ini.

Setiap hari adalah persiapan untuk berjumpa dengan Tuhan. Ketika kita jujur meskipun tidak ada yang melihat, kita sedang berjaga. Ketika kita mengampuni, melayani, menjalankan tanggung jawab dengan setia, dan memperhatikan orang yang dipercayakan kepada kita, kita sedang berjaga.

Karena itu, orang beriman tidak perlu terus bertanya, “Kapan Tuhan datang?” Yang lebih penting adalah, “Kalau Tuhan datang hari ini, sedang apakah Ia menemukan kita?” Kita tidak seperti orang yang takut kejahatannya terbongkar, tetapi seperti seseorang yang dengan tenang dan setia menghidupi kebaikan karena rindu suatu hari akan berjumpa dengan Sang Empunya Hidup dan berkata, “Tuhan, inilah yang telah kami usahakan dengan hidup yang Engkau percayakan kepada kami.”

Berjaga-jaga bukan berarti hidup dalam ketakutan akan masa depan. Berjaga-jaga berarti setia menghidupi hari ini. Ketika setiap hari kita hidupi dengan baik, setiap hari sesungguhnya sudah menjadi persiapan kita untuk berjumpa dengan Tuhan.