
Matius 22:34-40
Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
***
Hari ini Yesus kembali ditanya oleh seorang ahli Taurat yang ingin mencobai-Nya. Orang itu menanyakan tentang perintah yang paling utama dalam hukum Taurat. Ahli Taurat ini sebenarnya sudah mengetahui jawaban atas pertanyaannya itu, tetapi masih saja ia menanyakannya karena ingin menjatuhkan Yesus. Dengan sabar, Yesus menjawabnya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Pengajaran Yesus mengenai perintah yang paling utama ini sudah sering kita dengar. Namun, bagaimana dengan pelaksanaannya di dalam kehidupan kita? Pertanyaan tentang hukum yang paling utama dari ahli Taurat ini mewakili kita semua. Kita sudah tahu bahwa Yesus mengajarkan kasih, namun kasih yang dimaksud oleh-Nya bukanlah kasih yang biasa-biasa saja. Kasih ini menuntut kesetiaan dan komitmen, baik itu kepada-Nya maupun kepada sesama. Sekilas mudah untuk dilakukan, tetapi kenyataannya banyak faktor yang akan digunakan untuk membenarkan kealpaan hukum kasih ini dalam tindakan kita setiap hari.
Mungkin ini salah satu contoh kecil dalam keseharian kita, yakni ketika kita mau memasuki waktu hening untuk menyapa-Nya dan bersyukur kepada-Nya di pagi hari. Kegiatan ini sangat mudah untuk dilakukan, tetapi terkadang ditunda-tunda oleh banyak hal duniawi yang sekilas terasa lebih penting. Kita sering berkata, “Nanti saja berdoanya, masih belum sempat.” Lalu, hingga waktu menjelang tidur malam, keinginan untuk menyapa-Nya tidak kunjung terlaksana. Entah itu karena kita terlalu sibuk sepanjang hari ataupun karena kita lupa kalau sudah berjanji kepada-Nya. Waktu untuk bertemu Tuhan ini dikalahkan oleh banyak hal, sehingga kita lupa untuk bersyukur kepada Sang Pemberi Kehidupan.
Tuhan yang Mahakasih dengan sabar menunggu kita untuk datang menjalankan perintah kasih-Nya yang paling utama ini. Kasih-Nya yang tanpa batas itu abadi sepanjang waktu, walaupun kita sering lalai. Kita diberikan kebebasan untuk mencintai-Nya dengan utuh, dan juga untuk berani mengasihi sesama tanpa keraguan. Mari kita membangun komitmen untuk bisa menyapa-Nya, memuji-Nya, dan memuliakan nama-Nya dengan penuh kasih setiap hari. Jangan sia-siakan cinta Tuhan yang sangat luar biasa ini, sebab Ia selalu setia melindungi, menjaga, serta memberi kita sukacita kehidupan.










