Bermurah Hati seperti Allah Bapa

Senin, 2 Maret 2026 – Hari Biasa Pekan II Prapaskah

14

Lukas 6:36-38

“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

***

Yesus hari ini memanggil dan meminta kita untuk bermurah hati, sama seperti Allah yang disapa-Nya sebagai Bapa. “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” Kita dipanggil dan diminta-Nya untuk memperlihatkan sikap dan sifat seperti Allah yang murah hati kepada orang yang tidak tahu berterima kasih, yang jahat, serta yang tidak mungkin bisa memberikan balasan.

Dari panggilan dan permintaan ini, kita perlu bertanya pada diri kita sendiri: Apakah panggilan dan permintaan Yesus itu realistis? Apakah mungkin kita bisa bermurah hati seperti Allah Bapa sendiri? Kiranya jelas bahwa jika dibandingkan dengan kemurahan hati Allah Bapa yang tidak terhingga, kemurahan hati kita tidak ada apa-apanya. Kiranya yang dimaksudkan Yesus adalah: Kita dipanggil dan diminta untuk menjadi tanda, saluran, dan saksi kemurahan hati Allah Bapa.

Kita juga perlu bertanya pada diri kita sendiri: Apa artinya panggilan dan permintaan untuk bermurah hati? Bermurah hati berarti memaafkan dan mengampuni orang-orang yang telah menyakiti kita. Hal ini tentu tidaklah mudah. Kita mungkin tidak ingin memaafkan dan mengampuni orang yang telah menyakiti dan melukai hati kita.

Akan tetapi, jika kita benar-benar ingin mengikuti Yesus, kita harus memaafkan dan mengampuni. Tidak ada pilihan lain. Yesus berkata, “Ampunilah dan kamu akan diampuni.” Ini mengingatkan kita pada kata-kata dalam Doa Bapa Kami, “Ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.”

Bermurah hati juga diungkapkan dengan memberi secara tulus tanpa mengharapkan imbalan. Yesus memberikan gambaran tentang pahala atas tindakan memberi dengan murah hati. Hal ini diungkapkan dalam sebuah pepatah: “Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu.” Melalui pepatah ini, Yesus tidak berbicara tentang hubungan timbal balik antara tindakan memberi dan menerima, tetapi berbicara tentang panggilan untuk meniru kemurahan hati Tuhan yang memberi jauh melebihi jasa dan harapan kita.

Tuhan akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang mengikuti praktik kemurahan hati-Nya. Karena itu, marilah kita meniru kemurahan hati Tuhan yang tidak terbatas dengan rela memaafkan, mengampuni, berbelaskasihan, berbagi, dan menjalani hidup kita dengan cinta.