Pelayan Sang Firman

Kamis, 19 Maret 2026 – Hari Raya Santo Yusuf

10

Lukas 2:41-51a

Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya. Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka.

***

Setelah berjalan seharian dari Yerusalem menuju Nazaret, Yusuf dan Maria baru menyadari bahwa Yesus tidak ada bersama mereka. Keduanya lalu mencari Yesus dengan cemas, dan menemukan-Nya di Bait Allah tiga hari kemudian.

Saat itu, menanggapi pertanyaan ibu-Nya, Yesus berkata, “Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Ungkapan ini menyiratkan kesadaran Yesus akan keilahian-Nya dan status-Nya sebagai Anak Allah. Namun, Injil Lukas selanjutnya juga menceritakan bahwa Yesus tetap tinggal dalam asuhan kedua orang tua-Nya. Lukas dengan ini menunjukkan bahwa Yesus tetap patuh kepada orang tua duniawi-Nya. Ini merupakan gambaran bahwa kemanusiaan Yesus sepenuhnya sempurna.

Maria menyimpan peristiwa ini dalam hatinya. Kita bisa mengandaikan bahwa Yusuf melakukan hal yang sama. Pasti rasanya tidak mudah juga bagi Yusuf untuk memahami apa yang terjadi pada hidupnya, dan untuk memahami Yesus sebagai Anaknya sekaligus Anak Allah. Namun, Maria terus memercayai Tuhan. Meski tidak diceritakan, Yusuf tentu saja memiliki keyakinan yang sama seperti istrinya itu.

Paus Fransiskus memiliki kedekatan spiritual yang sangat khusus dengan Santo Yusuf. Ia bahkan mendedikasikan tahun 2021 sebagai “Tahun Santo Yusuf” dan menerbitkan Surat Apostolik Patris Corde. Satu kutipan dalam surat ini, “Tuhan bertindak melalui peristiwa dan orang-orang. Yusuf adalah orang yang melaluinya Tuhan memelihara awal sejarah penebusan. Dia adalah mukjizat yang dengannya Tuhan menyelamatkan Anak itu dan ibu-Nya” (Patris Corde 5).

Meski tidak lama bersama Yesus dan Maria, Yusuf menunjukkan teladan iman sejati. “Keheningan Yusuf bukanlah kebisuan, melainkan keheningan yang penuh dengan pendengaran, keheningan yang rajin, keheningan yang mengungkap kedalaman batinnya. Ia melayani Sang Firman dengan membiarkan Firman itu tumbuh dalam dirinya” (Paus Fransiskus, katekese audiensi umum, Vatikan, 15 Desember 2021). Teladan hidup St. Yusuf adalah tentang kesabaran. Meski pada awalnya ada kebingungan dan ada hal-hal tersembunyi dalam hidup, ia tetap maju untuk merawat Yesus dan Maria.