Menjadi Murid yang Berani

Jumat, 20 Maret 2026 – Hari Biasa Pekan IV Prapaskah

8

Yohanes 7:1-2,10,25-30

Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun.

Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Ia pun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam.

Beberapa orang Yerusalem berkata: “Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh? Dan lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya.” Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru: “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.” Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba.

***

Yesus sudah dikenal karena mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nya, juga karena kebenaran yang diwartakan-Nya. Orang banyak menyambut dan menerima kehadiran-Nya dengan penuh sukacita. Namun, para pemimpin agama di Yerusalem malah meradang karenanya. Mereka yang termasuk dalam kelompok ini adalah orang Farisi, orang Saduki, dan para ahli Taurat. Puncaknya, mereka bersekongkol untuk menyingkirkan Yesus. Demikianlah di satu sisi Yesus berhasil memikat hati masyarakat, tetapi di sisi lain Ia dimusuhi oleh para tokoh agama, sampai-sampai untuk dapat berkumpul dengan keluarga-Nya pada Hari Raya Pondok Daun, Yesus harus datang secara sembunyi-sembunyi.

Dalam realitas, pewartaan selalu berhadapan dengan tantangan, bahkan sampai sekarang ini. Tantangannya tidak main-main, sebab bahkan bisa sampai membawa pada kematian. Paus Fransiskus pernah mengingatkan mengenai tantangan yang dihadapi pewartaan zaman ini, yang konsekuensinya menuntut keberanian iman. Ia berkata, “Dunia membenci kita karena alasan yang sama dunia membenci Yesus, yakni karena Dia membawa terang Allah. Dunia lebih menyukai kegelapan agar dapat menyembunyikan perbuatan jahatnya. Jangan takut! Dengan kuasa kasih Yesus, kita dapat mengalahkan kebencian ini” (Renungan Doa Regina Caeli di Lapangan Santo Petrus, 4 Mei 2014).

Seruan “jangan takut” juga sering disampaikan oleh Yesus. Seruan ini merupakan dorongan bagi para murid-Nya untuk berani dalam menjadi pewarta iman dan kebenaran. Menjadi murid Yesus berarti berani berpegang pada kebenaran, berani memikul salib, dan berani menghadapi tantangan. Dari sanalah kehidupan menjadi berarti.