
Yohanes 6:22-29
Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.
Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”
***
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.”
Hidup kita dihiasi oleh serangkaian pilihan yang harus kita buat: Kita mau menggunakan waktu untuk bermalas-malasan atau berolahraga? Kita mau menggunakan waktu untuk main Instagram atau membaca sesuatu yang berkualitas? Seorang ayah atau ibu mau menemani anaknya belajar atau sibuk dengan urusannya sendiri? Kita memilih untuk menjadi pribadi yang pahit atau pribadi yang bahagia? Kita akan terus diminta untuk memilih. Kita bisa membuat pilihan yang baik atau bisa pula kurang tepat. Bagaimana kita bisa membuat pilihan yang baik?
Pengalaman kebangkitan adalah pengalaman memilih yang tepat. Kita perlu mampu membedakan antara sarana dan tujuan. Pandangan kita sering kali kabur ketika harus memilih antara sarana dan tujuan. Sarana sering kali lebih menarik dan menjadi titik perhatian kita. Kita menghabiskan waktu dan energi untuk mengejar sarana, kemudian kita merasa kosong dan hampa. Sarana menipu kita, sehingga kita tidak pernah menemukan tujuan yang sejati.
Yesus adalah tujuan yang sejati. Sarana-sarana yang ditawarkan oleh dunia perlu kita gunakan secukupnya. Sarana kita gunakan untuk mencapai tujuan sejati. Mari kita mohon rahmat agar semakin bijaksana untuk membedakan sarana dan tujuan.
Siapkah kita memilih tujuan sejati dalam hidup kita?










