
Yohanes 10:11-18
“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.”
***
Saya pernah menjadi gembala kambing. Gembala kambing lebih sulit daripada gembala domba karena domba lebih penurut daripada kambing. Dari pengalaman sebagai gembala kambing, saya belajar tentang arti keberanian seorang gembala.
Waktu itu, permusuhan antaranak kampung yang saling bertetangga merupakan hal biasa. Sebagai kampung minoritas, anak-anak kampung saya sering mendapat ancaman dari anak-anak nakal di kampung tetangga. Kambing-kambing yang saya gembalakan sering berkeliaran di wilayah kampung tetangga. Saya harus melewati kampung tetangga untuk menemukan kambing-kambing itu dan mengembalikannya ke kandang. Ada rasa takut untuk melewati kampung tetangga, sebab saya sendirian, sehingga dapat diserang oleh anak-anak kampung sebelah. Namun, sebagai gembala kambing, saya harus berani menghadapi risiko, agar bisa mengembalikan kambing-kambing ke kandang.
Hari ini, Injil berbicara tentang sifat-sifat lain dari sang gembala yang baik, yaitu Yesus. Yesus berkata Dia adalah gembala yang baik, yaitu gembala yang memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. Ketika domba-domba dalam keadaan terancam atau bahaya, seorang gembala yang baik tidak akan lari menyelamatkan dirinya. Dia akan menghadapi bahaya dengan berani dan memastikan domba-dombanya selamat.
Yesus membandingkan gembala yang baik dengan seorang upahan yang hanya bekerja untuk kepentingan sendiri dan tidak mempunyai rasa memiliki akan domba-dombanya. Orang upahan tidak mencintai domba-domba yang dipercayakan kepadanya. Dia mencari keselamatan sendiri, bekerja sejauh menguntungkan dirinya. Dalam keadaan bahaya, dia tidak akan peduli dengan kesejahteraan domba-domba, tetapi akan sibuk menyelamatkan diri. Berbeda dengan itu, gembala yang baik menempatkan domba-domba sebagai prioritas tertinggi dan rela berkorban untuk kawanan dombanya. Dia mempunyai rasa memiliki karena mengasihi domba-dombanya. Yesus menambahkan bahwa kekuatan kasih-Nya terhadap domba-domba berasal dari pengalaman relasi kasih dengan Bapa.
Uskup Fulton Sheen mengatakan bahwa hakikat seorang imam dalam Gereja Katolik adalah siap menjadi kurban, seperti Yesus yang rela menjadi kurban bagi keselamatan umat manusia. Karakter imam sebagai kurban ini sering kali dilupakan dan para pemimpin Gereja jatuh pada hasrat mengejar status sosial demi kehormatan. Motivasi ini sering membuat para imam menjadi gembala yang tidak rela mengorbankan diri demi pelayanan umat Allah dan jatuh pada hasrat untuk dilayani.
Sebagai kaum beriman, para pengikut Kristus juga diajak untuk siap mengorbankan diri dan melepaskan ego untuk melayani sesama. Seperti Yesus, para pengikut-Nya diminta untuk menjadi pribadi yang altruis, yang tidak hidup mengejar kepentingan diri, tetapi rela memberi diri bagi sesama. Seorang kristiani harus menjadi gembala yang berani berkorban untuk keselamatan sesama, khususnya yang paling membutuhkan.










