Domba yang Percaya

Selasa, 28 April 2026 – Hari Biasa Pekan IV Paskah

19

Yohanes 10:22-30

Tidak lama kemudian tibalah hari raya Penahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin. Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo. Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya: “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” Yesus menjawab mereka: “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu.”

***

Pada masa sekarang, hewan peliharaan seperti anjing ataupun kucing sering dianggap bagian dari keluarga. Hewan-hewan ini sangat setia kepada tuannya. Mereka mengenal dan mendengarkan suara tuannya, begitu akrab dengan tuannya, juga percaya kepada tuannya. Hewan-hewan peliharaan sering menyambut tuannya ketika kembali ke rumah. Gereja bahkan memiliki tradisi pemberkatan hewan peliharaan yang biasanya dibuat pada hari peringatan St. Fransiskus Asisi (4 Oktober), orang kudus yang akrab dengan alam termasuk hewan-hewan.

Yesus hari ini menggambarkan kedekatan relasi antara gembala dan domba-domba. Domba yang dekat dengan sang gembala yang baik percaya akan perkataan dan perbuatan dari sang gembala. Sebaliknya, yang bukan domba tidak akan mengenal sang gembala dan tidak akan percaya kepada-Nya. Kepercayaan lahir dari relasi yang akrab, dari pengenalan, dari relasi kasih. Domba yang baik mengenal dan percaya kepada sang gembala.

Orang yang percaya, yaitu murid-murid Yesus, menerima dan melaksanakan perkataan sang gembala. Orang-orang Farisi tidak pernah ingin menjadi murid dari sang suru atau domba dari sang gembala, yaitu Yesus, Sang Mesias. Domba-domba adalah mereka yang mengenal, mendengarkan, percaya, dan mengikuti sang gembala. Orang-orang Farisi tidak mampu dan tidak mau mengenal dan mengakui Yesus sebagai Mesias. Mereka tidak mendengarkan perkataan Yesus dan sulit percaya. Mereka membuat jarak dengan sang gembala. Domba-domba yang memercayakan diri pada sang gembala akan memperoleh hidup kekal dan tidak akan ditinggalkan oleh sang gembala.

Kehadiran Yesus sebagai gembala yang baik dalam hidup kita hendaknya membuat kita sebagai domba makin mengenal, dekat, akrab, dan percaya kepada-Nya. Domba yang baik memiliki relasi yang akrab dengan sang gembala. Sebagai pengikut Kristus, kita membiarkan diri dituntun oleh sang gembala, memercayakan diri dan hidup kita pada-Nya. Orang yang beriman akan Kristus selalu menjalin relasi yang akrab dengan Tuhan, mendengarkannya, dan percaya akan perkataan dan perbuatan-Nya. Kedekatan dan kepercayaan akan sang gembala membuat hidup kita terjamin: Yesus memberikan hidup kekal dan tidak akan membiarkan kita binasa, hilang, atau jauh dari-Nya dan dari Bapa. Itulah pahala bagi domba yang baik, domba yang percaya.