
Yohanes 13:16-20
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan daripada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.
Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.”
***
Kata sebuah pepatah: Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pepatah ini sering dipakai untuk menunjukkan pewarisan sifat atau kemiripan fisik antara orang tua dan anak. Dalam bahasa Inggris, kita juga mengenal pepatah: Like father like son, untuk menggambarkan kemiripan fisik, perilaku, sifat, atau kebiasaan antara ayah dan anak. Di beberapa daerah, nama seorang ayah sering diganti dengan nama anaknya, misalnya Papa Anton jika anak lelaki tertuanya bernama Anton. Itu semua menunjukkan bahwa seorang ayah sering dikenal dari anaknya. Anak sering menjadi tanda kehadiran atau wakil dari ayahnya.
Dalam Injil Yohanes, Yesus sering mengatakan bahwa jika orang melihat Anak berarti orang itu sudah melihat Bapa. Hari ini, Yesus mengatakan bahwa barangsiapa menerima orang yang Dia utus, orang itu menerima Dia, dan barangsiapa yang menerima Dia, orang itu menerima Bapa yang mengutus-Nya. Yesus menjadi sakramen atau tanda kehadiran Allah bagi dunia.
Pernyataan itu menunjukkan kesatuan Yesus dengan Bapa-Nya, atau menunjukkan kedekatan relasi antara Anak dan Bapa. Yesus dengan ini juga menunjukkan kedekatan relasi-Nya dengan para murid atau orang-orang yang percaya kepada-Nya. Pernyataan, “Barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku,” menunjukkan bahwa orang-orang yang diutus, yaitu para murid atau mereka yang percaya pada Yesus, adalah tanda kehadiran Yesus bagi orang-orang kepada siapa mereka diutus. Para utusan benar-benar memiliki kedekatan dengan Yesus, sehingga melihat mereka berarti melihat atau mengalami Yesus. Para utusan Tuhan menjadi sakramen Kristus bagi dunia.
Pernyataan Yesus itu juga menyiratkan tanggung jawab yang harus dijalankan oleh para utusan atau para murid atau para pengikut-Nya. Mereka yang diutus harus mampu menghadirkan wajah, sifat, perilaku, dan perkataan Kristus, sehingga orang yang melihat mereka sungguh-sungguh mengalami Kristus. Dengan kata lain, para utusan atau para murid harus mampu menjadi alter Kristus atau Kristus yang lain.
Sering kita mendengar sebutan “orang katolik KTP” yang merujuk pada orang yang menyebut dirinya Katolik tetapi kurang aktif dalam kegiatan peribadatan. Menjadi pertanyaan bagi kita: Apakah kita sudah benar-benar menjadi orang Katolik, sudah benar-benar menjadi pengikut Yesus yang sejati? Apakah kita sudah menjadi tanda kehadiran Kristus bagi sesama dan dunia? Apakah kita sudah menjadi sakramen kehadiran Tuhan bagi sesama? Jika belum, Yesus mengajak kita untuk mulai berdaya upaya menghadirkan Dia bagi sesama dan dunia, lewat perkataan, perbuatan, dan sifat kita yang makin menyerupai Dia.










